Pulau Subur (PTPS) Siap Debut Perdana di BEI, Simak Kinerja Keuangan dan Produksi
JAKARTA, Investortrust.id – Selain PT Barito Renewables Energi Tbk (BREN), PT Pulau Subur Tbk (PTPS) akan menggelar listing perdana saham di Bursa Efek Indonesia pada Senin (9/10/2023). Perusahaan perkebunan kelapa sawit ini meraup dana Rp 89,10 miliar dari aksi tersebut.
Dana perolahan tersebut didasarkan dari 450 juta saham atau setara dengan 20,76% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dilepas kepada pemodal publik. Sedangkan harga pelaksanaan saham tersebut ditetapkan pada level Rp 198 per saham, sehingga total dana yang diraup mencapai Rp 89,1 miliar.
Baca Juga
Barito Renewables (BREN) Listing Besok, Simak Prospek Bisnisnya hingga Peran Prajogo Pangestu
Pulau Subur (PTPS) juga memberikan waran secara cuma-cuma sebanyak 225 juta waran dengan rasio 2:1. Sedangkan harga pelaksanaan waran ditetapkan senilai Rp 218 per unit. Bertindak sebagai pelaksana penjamin emisi adalah NH Korindo Sekuritas Indonesia.
Berdasarkan penawaran yang masuk disebutkan bahwa pemesanan saham PTPS mengalami kelebihan permintaan hingga 370,67%. Prospektus perseroan sebelumnya juga mengungkapkan bahwa sebanyak 50% dana hasil IPO saham akan dimanfaatkan untuk belanja modal (capex) dan sisanya mencapai 50% untuk modal kerja perseroan.
Baca Juga
BEI Resmi Cetak Rekor IPO Terbanyak, Dana Terhimpun Tembus Rp 49,60 Triliun
Lalu, bagaimana dengan bisnis Pulau Subur (PTPS)? Prospektus yang diterbitkan sebelumnya menyebutkan bahwa perseroan merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang terleta di Kabupaten Ogan Kemering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Perseroan menguasai izin lokasi perkebunan seluas 1.180,9a hektare (ha) dengan total luas lahan status HGU seluas 882,58 ha dan APH sebanyak 322,94 ha.
Produksi TBS
Perseroan mencatatkan sebanyak 995,75 ha (94,98%) merupakan lahan tanaman menghasilan (TM) dan sisanya seluas 94,89 ha lahan tanaman belum menghasilan (TBM). Perusahaan juga mencatatkan bahwa produksi tandan buah segar (TBS) mencapai 30,05 ton per ha sepanjang tahun 2022. Sedangkan produksi TBS perseroan dijual langsung kepada pihak ketiga.
Baca Juga
Inilah Mal-mal yang Tetap Favorit dan yang Ditinggalkan Pengunjung
Terkait prospek bisnis, prospektus perseroan menyebutkan, permintaan minyak kepala sawit (CPO) diprediksi terus bertumbuh ke depan, seiring dengan permintaan domestik, ekspor, dan adanya kebijakan pemerintah untuk penggunaan biodisel dan pengembangan industry hilir minyak kelapa sawit di Indonesia.
Berdasarkan data keuangan, laba tahun berjalan perseroan senilai Rp 27,66 miliar pada 2022, dibandingkan raihan tahun 2021 senilai Rp 14,98 miliar. Begitu juga dengan pendapatan perseroan meningkat dari Rp 50,28 miliar menjadi Rp 64,29 miliar.
Baca Juga
Intip Sentimen IHSG Sepekan, Pergerakan 6 Saham Patut Dipantau
Sedangkan hingga kuartal I-2023 dicatatkan kenaikan laba tahun berjalan menjadi Rp 5,99 miliar, dibandingkan Rp 5,39 miliar pada kuartal I-2022. Sedangkan penjualan perseroan bertumbuh dari Rp 12,32 miliar menjadi Rp 13,86 miliar.
Perseroan juga mencatatkan total liabilitas naik dari Rp 19,04 miliar menjadi Rp 22,01 miliar hingga kuartal I-2023. Adapun total asset bertumbuh dari Rp 73,06 miliar menjadi Rp 76,02 miliar hingga akhir Maret 2023.
Berdasarkan data PT Sekawan Kontrindo bertindak sebagai pengendali saham perseroan mencapai 78,54% saham. Sedangkan sisanya publik sebanyak 20,76% saham, Efendi sebanyak 0,35%, dan Burhan sekitar 0,35%.

