Bagikan

Inilah 5 Saham Favorit yang Direkomendasikan Analis di Tengah Pelemahan Rupiah dan Lonjakan Harga Komoditas

Poin Penting

Samuel Sekuritas merekomendasikan sektor USD earners dan komoditas sebagai alternatif aman di tengah risiko sektor perbankan.
Lima saham pilihan utama meliputi ANTM (pemulihan volume), BUMI (transformasi emas), BULL (tarif pengangkutan), INDF (export exposure), dan SILO (ekspansi kapasitas).
Saham BULL diprediksi memiliki potensi kenaikan tertinggi (37,3%) berkat lonjakan tarif kapal tanker akibat tensi geopolitik global.

JAKARTA, investortrust.id – Pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan lonjakan harga komoditas berdampak positif bagi emiten yang memiliki pendapatan berbasis dolar AS (USD earners), emiten sektor komoditas, serta emiten yang defensif di tengah gejolak ekonomi. Setidaknya ada lima saham emiten favorit yang direkomendasikan analis.

Di tengah tekanan terhadap sektor perbankan, para analis mulai mengalihkan perhatian ke saham-saham yang dinilai lebih diuntungkan oleh kondisi tersebut.

Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi mengatakan, pihaknya kini lebih berhati-hati terhadap sektor perbankan dan cenderung memberi rekomendasi netral hingga underweight.

Top picks kami sekarang lebih ke USD earners dan commodity related karena saham bank saat ini risikonya masih cukup besar,” ujar Prasetya dalam Samuel Sekuritas Indonesia Media Connect 2026, baru-baru ini.

Baca Juga

BI: Rupiah Jatuh karena Permintaan Dolar Sangat Tinggi

Berikut lima saham pilihan Samuel Sekuritas di tengah gejolak pasar saat ini:

1. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Prasetya Gunadi menilai saham emiten tambang pelat merah ini memiliki prospek menarik ditopang pemulihan volume penjualan dan kenaikan harga komoditas.

“Kinerja kuartal I bagus karena sales volume mulai recover. Tahun lalu memang ada masalah dari Freeport, tapi tahun ini sudah lebih baik,” jelas dia.

Selain itu, menurut Prasetya, kenaikan rata-rata harga jual (average selling price/ASP) emas dan nikel akan mendukung pertumbuhan laba perusahaan. Samuel Sekuritas memperkirakan pertumbuhan laba per saham (earnings per share/EPS) ANTM dapat mencapai 31% pada 2026.

Samuel Sekuritas memasang target harga saham ANTM di level Rp 4.600 dari posisi saat ini sekitar Rp 3.740 atau berpotensi naik sekitar 23%.

2. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)

Saham berikutnya yang direkomendasikan adalah BUMI. Menurut Prasetya Gunadi, transformasi bisnis perusahaan dari batu bara menuju emas menjadi katalis positif jangka panjang.

Ia menyoroti kontribusi tambang Wolfram di Australia yang diakuisisi tahun lalu dan diperkirakan mulai berkontribusi penuh tahun ini. “Mereka menargetkan pada 2029–2030 kontribusi revenue dari gold bisa 50:50 dengan coal,” imbuh Pras.

Transformasi tersebut, kata Prasetya, berpotensi mendorong re-rating valuasi saham BUMI ke depan. Samuel Sekuritas menetapkan target harga Rp 300 untuk BUMI dari posisi saat ini sekitar Rp 230 atau berpotensi naik sekitar 30,4%.

Baca Juga

Rupiah Melemah Seiring Penguatan Dolar dan Kekhawatiran Inflasi Global

3. PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL)

Di sektor pelayaran, Samuel Sekuritas menjagokan saham BULL yang mendapat keuntungan dari lonjakan tarif pengangkutan (charter rates) di tengah tensi geopolitik global.

Prasetya mengatakan, perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran mendorong kenaikan tarif kapal tanker hingga lebih dari 200%. “BULL diuntungkan karena mayoritas kontraknya menggunakan spot rate, jadi kenaikan tarif langsung terasa,” tutur dia.

Selain itu, BULL menambah lima armada LNG vessels sepanjang tahun ini yang sudah tersedia dua unit di kuartal pertama. Dengan tambahan kapal dan kenaikan tarif, Samuel Sekuritas memperkirakan laba bersih sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) BULL dapat melonjak hingga tiga kali lipat dan laba bersih naik tujuh kali lipat.

Target harga saham BULL pun dipatok pada level Rp 700 per saham dari kisaran Rp 510 saat ini, dengan potensi kenaikan sekitar 37,3 %.

4. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)

Untuk kategori USD earners, Samuel Sekuritas lebih memilih INDF dibandingkan anak usahanya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Menurut Prasetya, INDF diuntungkan oleh eksposur bisnis perkebunan melalui PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) yang penjualan ekspornya naik di tengah penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas. Kemampuan grup Indofood dalam meneruskan kenaikan biaya bahan baku ke harga jual produk juga diyakini bakal mendongkrak kinerja perseroan.

Samuel Sekuritas menargetkan harga saham INDF di level Rp 7.900 dari posisi saat ini sekitar Rp 6.750 atau berpotensi naik sekitar 17%.

Baca Juga

Fitch Naikkan Harga Komoditas 2026, Saham Tambang Berpotensi Menguat

5. PT Siloam International Hospital Tbjk (SILO)

Samuel Sekuritas menjagokan SILO sebagai salah satu saham defensif. Prospek pertumbuhan perusahaan diyakini akan ditopang ekspansi kapasitas tempat tidur rumah sakit (RS), serta peningkatan layanan dengan tarif lebih tinggi.

“Mereka terus menambah bed capacity, bukan hanya membangun RS baru, tetapi juga ekspansi kapasitas di RS existing seperti di Semarang,” ujar Prasetya.

Kecuali volume pasien yang meningkat, margin perusahaan diperkirakan membaik karena dominasi layanan dengan tarif lebih premium. Samuel Sekuritas menetapkan target harga saham SILO di level Rp 3.000 dari posisi saat ini sekitar Rp 2.500 atau berpotensi naik sekitar 20%.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024