Inilah Mal-mal yang Tetap Favorit dan yang Ditinggalkan Pengunjung
JAKARTA, investortrust.id – Masa pandemi Covid-19 dengan pembatasan mobilitas membuat jumlah pengunjung mal dan pusat-pusat perbelanjaan anjlok. Banyak tenant yang hengkang, menutup gerai, bahkan bangkrut. Ironisnya, sebagian adalah pelaku usaha kecil-menengah.
Usai pemerintah menghapus aturan pembatasan mobilitas (PPKM) tahun lalu, sejumlah mal dan tenant mencoba bangkit berbenah. Mal-mal mempercantik diri, memoles atmosfer dan berbagai fasilitasnya. Sebagian mal yang dulu menjadi destinasi favorit dan primadona mampu menghidupkan kembali kejayaannya. Namun tak sedikit yang redup dan ditinggalkan pengunjung.
Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, termasuk yang masih menjadi salah satu spot mal favorit. Muti (20) dan Michel (20), dua mahasiswi Universitas Indonesia (UI), mengaku cukup sering mengunjungi mal yang populer dengan sebutan Kokas itu. “Cukup sering sih (kita) kesini. Hampir satu minggu sekali, biasanya sih untuk makan dan belanja,” sebut Muti.
Mereka tahu kini marak penjualan lewat e-commerce, tapi berbelanja langsung di mal lebih excited. “Lebih nyaman berbelanja langsung. Kita bisa melihat dan memilih langsung. Apalagi untuk belanja sepatu, hahaha,” ucap Michel.
Sedangkan bagi Jece (20), daya tarik Kokas adalah tempat belanjannya yang beragam, tenant makanan bervariasi, dan bioskopnya menarik. “Kalau aku sih seringnya (kesini) untuk makan dan nonton, ya. Mungkin sekalian cuci mata juga,” sebut Jece.
Rezi, sebagai salah satu pegawai tenant di Kota Kasablanka, menyebutkan bahwa pengunjung di mal Kokas relatif stabil, meski belum seramai sebelum pandemi Covid-19.
“Sebenarnya stabil sih, ramai-ramai aja. Meskipun terlihat tidak ramai pengunjung, tapi Alhamdulillah banyak juga yang pesan lewat Go-Food. Tapi secara umum Alhamdulillah ramai,” tutur Rezi.
Mal yang tergolong pendatang baru yang boleh dibilang makin berkilau adalah AEON Mall. Salah satunya adalah AEON Mall Tanjung Barat, mal keempat AEON yang dibangun di seputar Jakarta. Mal ini selalu padat pengunjung saat akhir pekan.
“Perbedaannya cukup jauh sih ya antara weekend dan hari biasa, bisa di atas 50%,” ungkap Evi, SPG Pikapiku Ice Cream di AEON Mall Tanjung Barat.
“Dari data yang kita dapat sih terdapat perbedaan 5.000 jumlah pengunjung antara weekend dan hari biasa,” tambah Tri, SPG Eyes Spice.
Sejumlah tenant mengaku omzetnya tidak tergoyah oleh ramainya penjualan online. Kebanyakan pengunjung datang ke AEON untuk makan, nonton, dan jalan-jalan. Dari pantauan tim investortrust.id, pengunjung AEON Mall Tanjung Barat lebih banyak menghabiskan waktu untuk makan, terutama di lantai 3 yang dipenuhi dengan tenant FNB (foodcourt).
“Mal ini enak untuk cuci mata dan makan. AEON Mall terkenal dengan sushinya. Juga miniso jadi tempat favorit. Malnya bersih, nyaman, dan lumayan lengkap pilihan makanan di foodcourt-nya,” ujar Maura, salah satu pengunjung AEON Mall.
Di tempat lain, Zahra, seorang karyawan di gerai Krispy Kreme Lippo Mall Kemang mengaku peningkatan pengunjung mal terutama terjadi pada tahun ini. “Sedangkan tahun 2020-2021 masih terasa sepi, benar-benar stuck,” ucapnya.
Meski Krispy Kreme Lippo Mall Kemang telah merambah ke platform online seperti GoFood, dan GrabFood, tetap masih lebih banyak pembeli yang memilih untuk datang langsung ke gerainya. “Kalau di store sini lebih banyak yang beli langsung di tenant sih, daripada di online,” tutur Zahra.
Untuk meningkatkan kunjungan dan penjualan, Zahra mengusulkan kepada pengelola mal untuk sering mengadakan event-event mingguan. Sebagai contoh kontes hewan peliharaan atau lomba-lomba yang menarik, agar dapat meningkatkan animo pengunjung.
Aiko, salah satu pengunjung Lippo Mall Kemang mengakui atmosfer mal sangat menyenangkan. Mal ini menawarkan ruang terbuka untuk para perokok, serta ada hiburan live music. Aiko mengaku jalan-jalan ke mal merupakan kesempatan yang bagus untuk bersantai sambil menikmati pemandangan. Ia juga mengapresiasi beragam restoran yang ada di mal ini, sehingga menjadi destinasi ideal bagi keluarga.
“Nge-mal ke sini emang enak sih. Ada ruangan terbuka untuk yang suka ngerokok, juga ada live music-nya juga. Pokoknya buat cuci mata sih oke-oke aja. Restorannya juga lumayan komplit dikarenakan kita ke mal untuk cari makanan enak,” kata Aiko sambil tertawa.
Selain itu, ia juga berharap mal ini perlu menambahkan lebih banyak tenant yang memiliki daya jual yang lebih terjangkau. “Untuk belanja disini kurang ya Mas. Kalau anak-anak zaman sekarang-kan lebih prefer ke brand yang ramah di kantong gitu, bukan yang pricey,” ujar Aiko.
Sementara itu, Blok M Plaza termasuk salah satu mal yang mulai bangkit setelah pemerintah melonggarkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akibat Pandemi Covid-19 sejak akhir Desember 2022 lalu. Mal yang terletak di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini kembali bangkit usai pandemi, di tengah banyaknya mal yang berguguran. Berdasarkan pantauan investortrust.id pada Senin siang, (25/9/2023), Blok M Plaza ramai pengunjung meskipun di hari kerja.
“Kalau untuk pengunjung sih udah lumayan meningkat ya, sudah ramai seperti sebelum pandemi. Terutama sejak masuk mal gak perlu verifikasi dengan aplikasi,” ujar Melli, pemilik tenant Sovlo di lantai 6.
Meskipun demikian, Melli mengakui bahwa omzetnya belum terlalu naik drastis. “Penjualan naik turun sih, paling ramai biasanya weekend,” jelasnya.
Chandini, mahasiswi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, mengaku Blok M Plaza yang menjadi primadona pada 1990-an hingga 2000-an itu menjadi mal favoritnya. Dia bisa dua hingga tiga kali dalam sebulan mengunjungi Blok M Plaza hanya untuk sekedar menonton film di bioskop.
Tina juga menjadi pengunjung setia Blok M Plaza untuk mengisi waktu luang bersama teman-teman. “Mal masih nomor satu, gitu. Tapi, ya kadang-kadang mal jadi kurang nyaman karena terlalu ramai atau gimana gitu. Masih enak untuk kumpul-kumpul, untuk makan-makan sama teman-teman, strategis tempatnya di sini,” ujarnya.
Terpukul
Tak semua mal di Jakarta bisa bangkit dari keterpurukan akibat terhempas pandemi. Plaza Semanggi adalah salah satu mal yang menjadi korban pembatasan mobilitas selama pandemi. Mal yang dulunya sangat bergengsi dan hits di zamannya, sekarang sepi bagaikan kuburan.
Pasca pandemi, Plaza Semanggi tidak mengalami perubahan sedikit pun. Yani, salah satu pemilik gerai mengungkapkan bahwa setelah pandemi berakhir tidak ada kenaikan jumlah pengunjung. Bahkan banyak tenant yang terpaksa harus tutup karena sepi pengunjung. “Pemasukan sangat berkurang jauh,” kata Yani, di Jakarta, Senin (25/09/2023).
Yani menginformasikan bahwa saat ini Plaza Semanggi sedang direnovasi. Mungkin mal akan kembali ramai setelah renovasi selesai.
Penjaga toko lainnya, Santika, menyebut, meski ada beberapa perusahaan yang beroperasi di Plaza Semanggi, hal itu tidak mendongkrak jumlah pengunjung. “Paling yang ramai pas jam makan siang. Itu pun di lantai 3A karena isinya restoran semua, kalo tenant-tenant-nya sih tetap sepi,” ujarnya.
Plaza Semanggi mestinya mampu mengembalikan masa kejayaannya. Dulu banyak brand besar tapi sekarang hengkang. “Mungkin Plaza Semanggi harus lebih banyak menghadirkan tenant brand yang lebih update untuk menarik perhatian pengunjung. Apalagi, foodcourt di Plaza Semanggi sudah sangat menarik buat anak muda, jadi sayang kalo gak dimaksimalkan,” ujar Garry, seorang mahasiswa Atma Jaya Semanggi.
Meski kampusnya bersebelahan dengan Plaza Semanggi, Garry lebih senang mengunjungi Pondok Indah Mall. “Favorit saya Pondok Indah Mall, karena lengkap termasuk brand yang up to date, banyak pilihan makan, enak untuk cuci mata,” tuturnya.
Di antara mal yang juga relatif masih sepi pengunjung adalah Blok M Square, yang berjarak 100 meter dari Blok M Plaza dan berada di damping Terminal Bus TransJakarta Blok M. Mal ini memang sempat jadi tujuan favorit sebelum pandemi. Sekarang perlahan kembali bangkit untuk pulih.
“Sebenarnya baik weekend maupun hari kerja tetap relatif sepi ya, meskipun sudah meningkat setelah pandemi. Omzet saya lumayan, Rp 15 Juta per bulan. Untuk biaya listrik Rp 3 juta, karena memang buka setiap hari dari jam 10 pagi sampai 8 malam,” kata Aura (23), seorang penjual pakaian muslim wanita di Blok M Square.
Ayi (38), penjual souvernir barang antik juga merasakan kenaikan penjualan. “Alhamdulillah setelah beberapa bulan belakangan ini lebih naik, kalau bicara omzet per bulan sekitar Rp 20 juta. Kadang turun kadang naik. Sewa gerai Rp 2,6 juta,” kata Ayi.
Mal-mal dan pusat belanja saat ini memang harus bertarung dengan penjualan online dengan segala daya pikatnya, terutama miringnya harga. Tapi, mal tetaplah menjadi destinasi refreshing penting bagi masyarakat kota-kota besar yang jenuh oleh rutinitas. Apalagi, mal juga menjadi tempat menggantungkan nafkah ribuan tenaga kerja. (CR-1/CR-2/CR-3/CR-4/CR-5/CR-6)

