Yield SBN 10 Tahun Diprediksi Capai 6% Akhir 2024
JAKARTA, investortrust.id – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memprediksi imbal hasil (yield) surat berharga negara (SBN) 10 tahun akan mendarat di level 6% pada akhir 2024.
“Kami memperkirakan imbal hasil SBN 10 tahun dapat turun ke kisaran 6-6,25% tahun ini,” ungkap Director & Chief Investment Officer Fixed Income MAMI Ezra Nazula dalam Market Outlook: Keeping Up with 2024.
Menurut dia, 2024 akan menjadi tahun yang konstruktif bagi pasar obligasi. Kondisi makroekonomi diperkirakan akan suportif. Tren ini didukung dua katalis bagi pasar yaitu inflasi yang terjaga dan potensi pemangkasan suku bunga.
Tingkat imbal hasil SBN 10 tahun yang masih di kisaran 6,7% pun dia tegaskan, dapat menjadi entry point yang menarik bagi investor. Pada saat yang bersamaan, Ezra meyakini permintaan pasar terhadap obligasi pada 2024 masih akan tetap kuat.
Baca Juga
Manulife (MAMI) Perkirakan The Fed Penentu Utama Penurunan BI7DRR
Faktor penopangnya yaitu permintaan dari investor domestik, seperti investor institusi keuangan non-bank. Sebab, ada kebutuhan reinvestasi dan pemenuhan kewajiban investasi pada SBN. Permintaan investor asing juga dipercaya dapat membaik, seiring peralihan kebijakan suku bunga global yang lebih akomodatif.
“Walaupun kami percaya tahun 2024 akan menjadi tahun yang positif bagi pasar obligasi, namun beberapa faktor risiko perlu dicermati dan diantisipasi,” imbuh dia.
Pertama, risiko dari tekanan penerbitan obligasi pemerintah, terutama pada paruh pertama 2024. Ini merupakan strategi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan untuk melakukan lelang lebih banyak pada paruh pertama (front-loading issuance policy).
Baca Juga
Gandeng HSBC, Manulife (MAMI) Luncurkan Reksa Dana Syariah ESG
Kedua, melebarnya selisih yield antara Surat Utang Negara (SUN) Indonesia dibandingkan yield US Treasury, membuat pasar Indonesia menjadi kurang menarik. “Kondisi ini dapat terjadi apabila pendapatan ekspor Indonesia turun akibat melemahnya harga komoditas global,” sambung Ezra.
Ketiga, ada risiko perbedaan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Terakhir, risiko ketidakpastian geopolitik.
Sebelumnya, dia menilai, daya tarik pasar obligasi Indonesia masih terjaga baik. Per 5 Januari 2024, imbal hasil riil obligasi Indonesia tenor 10 tahun berada di level 4%. Level ini masih jadi salah satu yang tertinggi jika dibandingkan kawasan lain, seperti Thailand 3,2%, China 3%, Malaysia 2,3%, Filipina 2,1%, India 1,7%, Amerika Serikat 0,9%, dan Eropa -1,9%.
Kondisi tersebut disertai peralihan kebijakan suku bunga global yang lebih akomodatif dan nilai tukar Rupiah yang lebih stabil. “Sehingga berpotensi mendorong masuknya aliran dana asing yang dapat mendukung pasar obligasi domestik,” pungkasnya. (CR-10)
Baca Juga

