Kinerja Perbankan Diprediksi Tumbuh Stagnan hingga Akhir Tahun
JAKARTA, investortrust.id – Senior Konsultan PT Kovida Daya Indonesia Soebowo Musa menyampaikan pertumbuhan kinerja perbankan relative stagnan tahun ini. Pasalnya, saat ini banyak bank yang meningkatkan cadangannya.
Hal itu ia sampaikan Soebowo Musa dalam acara Rapat Rapat II Juri Bank Terbaik 2024 yang bertajuk "Balancing Bank Performance & Sustainability Readiness Toward 2030" di Kantor Investortrust.id, Gedung The Convergence Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (24/6/2024).
"Meskipun kelihatan tumbuh, tapi cenderung stagnan. Tidak akan bertumbuh signifikan. Karena bank cenderung menaikkan cadangan sebagai antipiasi penurunan kualitas aset," ujar Soebowo.
Baca Juga
Saham Bank Papan Atas Perkasa Pekan Ini, Penguatan bakal Berlanjut?
Lebih lanjut, dia menyebut, hal tersebut dilakukan perbankan karena bergantung pada Bank Sentral Amerika Serikat (AS). "Mau nggak mau, bank local pasti melihat kondisi tingkat suku bunga Amerika, meskipun BI bilang independen, tapi reality demikian," ungkapnya.
Di sisi lain, Soebowo menyampaikan, Indonesia mengharapakan The Fed akan menurunkan suku bunganya. "Kita berharap Amerika Serikat untuk menurunkan suku bunga. Tapi, Amerika sendiri menunjukkan anomali," katanya.
Hingga April 2024, perbankan masih resilien dan stabil didukung oleh tingkat profitabilitas (ROA) sebesar 2,51% dan NIM sebesar 4,56%. Permodalan (CAR) perbankan masih di level yang relatif tinggi yaitu sebesar 25,99%, menjadi bantalan mitigasi risiko yang solid di tengah kondisi ketidakpastian global.
Dari sisi kinerja intermediasi, pada April 2024, secara mtm kredit mengalami peningkatan sebesar Rp 66,05 triliun atau tumbuh sebesar 0,91% mtm. Adapun secara tahunan, kredit melanjutkan catatan double digit growth sebesar 13,09% (year on year/yoy) menjadi Rp 7.310,7 triliun.
Baca Juga
Sejalan dengan pertumbuhan kredit, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan positif. Pada April 2024, DPK tercatat tumbuh sebesar 0,60% mtm atau meningkat sebesar 8,21% yoy menjadi Rp 8.653 triliun, dengan giro menjadi kontributor pertumbuhan terbesar yaitu 11,81% yoy.
Likuiditas industri perbankan pada April 2024 memadai dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 113,9% dan 25,6% atau jauh di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%.
Kondisi tersebut searah dengan likuiditas global yang cukup ketat di tengah kebijakan bank sentral AS yang mempertahankan suku bunga tinggi (high for longer).

