Ini Penyebab Kinerja Reksa Dana Saham Relatif Stagnan 7 Tahun Terakhir
JAKARTA, investortrust.id – Kinerja reksa dana saham dinilai kurang meyakinkan seiring dengan kinerja pasar saham yang relatif stagnan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat hanya menguat 1,50% secara year to date hingga akhir Agustus 2023.
Chief Executive Officer PT Sucorinvest Asset Management, Jemmy Paul Wowointana, mengatakan performa kurang apik pada reksa dana saham terjadi dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir.
“Penyebabnya kita lihat, IHSG relatif tidak kemana-mana (stagnan), sehingga berbanding lurus dengan kinerja reksa dana saham secara industri,” papar Jemmy Paul di acara diskusi panel dengan tema “Tantangan Investasi Reksa Dana di Tahun Politik,” yang digelar Investortrust, Senin (18/9/2023).
Ditegaskan Jemmy dalam kurun waktu 2017 – 2023, IHSG hanya bergerak dalam rentang 6.600 – 7.000.
Baca Juga
Dana Kelolaan Reksa Dana Bisa Naik 3 Kali Lipat, Ini Faktor Pendorongnya
Kondisi lebih baik ditorehkan reksa dana berbasis obligasi yang mampu tumbuh di atas 4%, begitu pula dengan reksa dana pasar uang yang masih bisa memberikan return minimal 3%.
Periode stagnan reksa dana saham diyakini Jemmy segera berlalu, ke depan dia optimistis reksa dana bisa kembali merebut singgasana penghasil return tertinggi dibanding reksa dana jenis lain.
“Saat ini pasar saham sudah berada di titik bottom, penurunan IHSG sudah terbatas sehingga potensi reksa dana saham untuk bertumbuh makin terbuka,” paparnya.
Baca Juga
Selain sudah berada di titik bottom, Jemmy melihat pertumbuhan pasar saham didorong oleh makin membaiknya kondisi global, di mana asumsi penurunan suku bunga mulai mengemuka seiring penurunan inflasi global.
“Penurunan suku bunga akan membuat cost of fund turun. Saya cukup optimistis hyper inflation sudah mulai berakhir. Ke depannya kita akan segera tumbuh mulai dari sisi asset kelas dari bond market maupun dari saham so far mulai menarik,” ujarnya.

