IHSG Diprediksi Dapat Tembus 7.400 Akhir Tahun Ini
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diprediksi dapat menembus 7.400 akhir tahun ini. Penguatan diperkirakan masih bisa berlanjut mencapai 7.600 hingga kuartal I-2024.
Head of Investment Information PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Martha Christina mengatakan, saat ini, perhatian pelaku pasar masih pada perang Palestina-Israel dan dampaknya terhadap harga minyak bumi dan komoditas lain, serta angka inflasi dan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Ia meyakini kondisi pasar akan semakin normal di akhir tahun ini, menjelang aksi window dressing.
”Secara historis, kami mencatat IHSG hampir selalu menguat pada kuartal IV setiap tahunnya, terutama terkait dengan momentum aktivitas window dressing. Sepanjang Oktober dan Desember dalam 10 tahun terakhir, IHSG mencetak rerata return 2,1% dan 2,6%. Window dressing adalah kegiatan di mana investor institusi di pasar modal mempercantik portofolionya agar laporan keuangan tahunannya terlihat lebih baik,” kata Martha dalam keterangan di Jakarta, Selasa (17/10/2023).
Baca Juga
Gencatan Senjata Terbatas Israel - Hamas Ditetapkan di Perbatasan Mesir
Aksi window dressing umumnya dilakukan dengan membeli efek-efek di pasar modal secara lebih agresif, sehingga membuat pasar saham bergerak positif. Martha juga menyebut 10 saham pilihan (top picks) bisa dicermati investor, yakni ACES, AKRA, BMRI, CPIN, EXCL, HRUM, INTP, PRDA, dan UNTR.
Value Stock
Sementara itu, Head of Investment Specialist PT Syailendra Capital Teguh Bagja S mengatakan, hingga kuartal I-2024, IHSG diprediksi dapat mencapai 7.600. Ia menjagokan 12 value stock yakni ADRO, ASII, BBNI, BBRI, BMRI, BRPT, INDF, INKP, TLKM, UNTR, UNVR, dan SMGR.
Ia menjelaskan, value stock adalah saham perusahaan yang harga sahamnya di pasar masih lebih murah dibanding nilai intrinsik perusahaannya. "Penurunan harga saham itu cenderung lebih cepat dibanding penurunan kinerja emiten penerbit saham, dan value stock memiliki peluang untuk tumbuh secara fundamental walaupun pasar sedang terkoreksi. Investasi pada value stocks diharapkan memiliki kinerja yang lebih konsisten dalam jangka panjang sehubungan dengan fundamental perusahaan yang baik dan potensi dividen yang akan diberikan oleh emiten-emiten value stock," paparnya.
Baca Juga
Sementara itu, Head of Corporate Secretary PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Ivonne Kaharu menjelaskan, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia tergabung dalam salah satu kelompok usaha jasa keuangan nonbank global yakni Mirae Asset Financial Group. Grup ini memiliki dana kelolaan sekitar US$ 550 miliar (setara Rp 8.000 triliun) pada akhir tahun lalu.
Perusahaan merupakan salah satu perusahaan efek terbesar di Indonesia dan menjadi anggota bursa teraktif di pasar saham, baik karena nilai, volume, maupun frekuensi perdagangan saham. Selain itu, efek ekuitas nasabah perusahaan merupakan salah satu yang terbesar pada 2020, 2021, dan 2022.
“Nilai modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) Mirae Asset di Indonesia masih stabil di sekitar Rp 1,3 triliun dalam 6 bulan terakhir dan Rp 1,4 triliun dalam setahun terakhir. Angka tersebut jauh di atas ketentuan minimal yang ditetapkan oleh peraturan dan perundang-undangan untuk perusahaan efek, yaitu Rp 25 miliar, serta ketentuan lainnya. Kami menjadi salah satu yang terbesar MKBD-nya, yang juga menunjukkan indikasi sehatnya operasional perusahaan,” tandasnya.

