IHSG Akhir 2023 Diprediksi Tembus 7.100, Empat Sektor Ini Jadi Andalan
JAKARTA, investortrust.id – Samuel Sekuritas Indonesia merevisi turun target indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini dari semula 7.300 menjadi 7.100. Target tersebut sejalan dengan revisi turun proyeksi PE BEI akibat kenaikan premi risiko ekuitas.
“Kami menurunkan target P/E BEI menjadi 13,7 kali akibat peningkatan premi risiko ekuitas, namu ratingmasih tetap dipertahankan overweight untuk sektor-sektor yang terdampak pemilu, seperti telekomunikasi, kebutuhan pokok konsumen, dan perbankan. Sejumlah sektor ini diyakini dapat bertumbuh kuat pada kuartal mendatang, didukung oleh kampanye pemilu,” tulis Analis Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, Jumat (17/11/2023).
Baca Juga
IHSG Berpotensi Naik, Danareksa Sekuritas Jagokan SMRA, ACES, dan TBIG
Selain ketiga sektor tersebut, Samuel Sekuritas mempertahankan pandangan positif terhadap sektor propertiberkat valuasinya yang menarik atau diperdagangan sudah diskon 75% terhadap NAV. Pandangan positif sektor tersebut juga didukung stimulus pengurangan pajak propertiyang dapat membantu meningkatkan prapenjualan pada tahun 2024.
“Kami menambahkan saham CTRA sebagai pilihan teratas didukung komposisi produk perseroan sebagian besar berharga di bawah Rp 2 miliar ditambah prospek prapenjualan yang solid,” terangnya.
Baca Juga
Sempat Disalip BREN, BRI (BBRI) Kembali Tempati Market Cap Terbesar Kedua
Prasetya mengurai juga menambahkan IHSG berpotensi diuntungkan oleh beberapa katalis positif jangka pendek, termasuk kenaikan konsumsi didukung belanja pemiluserta berbagai stimulus yang diberikan pemerintah untuk menjaga daya beli dan melawan inflasi. Sejumlah program tersebut hibah beras Rp 2,6 triliundan bantuan tunai El Nino untuk keluarga miskin Rp 7,5 triliun.
“Sejumlah stimulus tersebut diharapkan menciptakan pertumbuhan PDB sebesar 5,1% tahun 2023 dan stimulus-stimulus tersebut diyakini dapat menahan perlambatan ekonomi pada kuarta akhir tahun ini,” terangnya.
Baca Juga
Soliditas Outlook Anak Usaha Perkokoh Performa Indofood (INDF)
Dirinya juga menyoroti tekanan berat kecenderung peningkatan suku bunga bank sentral sejumlah negara yang memicu arus ke luar modal asing di tengah ketidakpastian global, terutama risiko geopolitik di Timur Tengah, sikap hawkish The Fed, tingginya imbal hasil Treasury AS, dan lemahnya pertumbuhan ekonomi global.
“Namun, kami yakin pasar telah mencapai titik terendahnya, dan melambatnya laju inflasi inti AS dapat mendongkrak keyakinan pasar bahwa siklus kenaikan suku bunga Fed sudah berakhir,” terangnya.

