The Fed dan BI Diprediksi Pertahankan Suku Bunga hingga Akhir Tahun, Berikut Pertimbangannya
JAKARTA, Investortrust.id – Rapat dewan gubernur atau Federal Open Market Committee (FOMC) Federal Reserve pada 19-20 September 2023 diperkirakan mempertahankan tingkat suku bunga.
Meski gubernur bank sentral AS Jerome Powel menyebutkan peluang kenaikan suku bunga, jika inflasi masih lanjutkan kenaikan.
Baca Juga
The Fed Diprediksi Tahan Bunga September, Rupiah Melemah Pagi Ini
PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,50% dalam pertemuan bulan ini. Walaupun inflasi Agustus naik ke level 3,7% secara tahunan, dibandingkan Juli 2023 dengan inflasi sebesar 3,2%.
“Saat ini, bank sentral global sudah mulai menyadari pentingnya mendukung pertumbuhan ekonomi, meski dalam jangka pendek masih ada tekanan inflasi. Oleh karena itu, kami melihat ke depan bank sentral global segera shifting ke arah growth over stability,’’ papar Ekonom Bahana TCW Emil Muhamad melalui ketarangan di Jakarta, Selasa (19/9/2023).
Baca Juga
Harga Melesat 95,85%, BEI Akhirnya Suspensi Saham Radiant (RUIS)
Namun perlu dicatat, terang dia, stability bisa tetap terjaga dengan beragam kebijakan seperti yang diterapkan Bank Indonesia (BI), yaitu kebijakan pro growth melalui makroprudensial loan to value (LTV) dan diskon giro wajib minimum (GWM). Stabilitas juga bisa dijaga dengan kebijakan suku bunga dan juga melalui sekuritas rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Jaga Yield
Dia mengatakan, kenaikan tingkat suku bunga AS akan berimbas langsung terhadap nilai tukar, namun bank sentral bisa menjalankan triple intervention dan instrumen barunya SRBI guna menjaga rupiah tetap terkendali.
Dalam kondisi global yang penuh tekanan saat ini, terang dia, menjaga yield differential dianggap lebih penting bagi kebijakan moneter. Pada pertengahan September ini, selisih yield surat berharga negara (SBN) dengan surat berharga US atau disebut juga US treasury (UST) tenor 10 tahun telah naik ke 2,35%.
Baca Juga
Meski Dipangkas, Potensi Cuan Saham Arwana Citramulia (ARNA) masih Besar
Selama selisihnya masih di atas level terendah yang pernah terjadi di 2,12%, yield SBN masih menarik bagi investor asing, apalagi pemerintah terus berupaya menekan inflasi domestik. Badan pusat statistik (BPS) mencatat inflasi pada Agustus sebesar 3,27% secara tahunan sehingga inflasi Indonesia sejak Januari hingga Agustus 2023, tercatat sebesar 1,33%, masih berada dalam target bank sentral sekitar 2% - 4% hingga akhir 2023.
“Dengan menjaga yield di pasar keuangan tetap menarik, BI dapat mempertahankan suku bunga meski The Fed masih membuka kemungkinan untuk menaikkan suku bunganya satu kali lagi ke depan,’’ ungkap Emil.
Baca Juga
Berbagai fakor tersebut mendorong Bahana mempertahankan suku bunga The Fed dan BI 7-day reserve repo rate tidak akan berubah hingga akhir tahun, meski dalam jangka pendek masih ada tekanan inflasi.
Bank sentral secara global akan lebih mempertimbangkan prospek pertumbuhan dan inflasi di tahun depan dalam menentukan arah kebijakannya hingga akhir tahun ini.

