Pengamat Harap BI Tahan Suku Bunga Acuan, Ini Pertimbangannya
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat Ekonomi Makro Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia, Teuku Riefky menyebut Bank Indonesia (BI) perlu mempertahankan suku bunga acuan, BI Rate di level 6%.
"Kami memandang BI perlu mempertahankan BI Rate pada level 6% pada rapat dewan gubernur BI bulan ini," kata Riefky dalam keterangan resminya, diakses, Rabu (21/02/2024).
Riefky beralasan, meskipun tidak ada tekanan dari inflasi, BI perlu menjaga suku bunga agar perbedaan imbal hasil antara obligasi pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) tetap terkendali. Kondisi ini untuk mencegah aliran modal asing keluar dari Tanah Air.
Baca Juga
Wall Street Anjlok, S&P 500 dan Nasdaq Merosot Terseret Saham Teknologi
"Mempertahankan BI Rate mungkin merupakan sikap paling bijak dalam Rapat Dewan Gubernur mendatang," kata dia.
Riefky mengatakan, antara pertengahan Januari 2024 hingga pertengahan Februari 2024, terdapat aliran modal masuk sebesar US$ 150 juta ke pasar saham dan obligasi. Ini didorong arus masuk saham US$ 770 juta dan arus keluar obligasi US$ 230 juta.
Arus modal keluar dari pasar obligasi domestik mendorong naiknya imbal hasil Surat Utang Negara tenor 10 tahun dari 6,66% pada pertengahan Januari 2024 menjadi 6,70% pada pertenghan Februari 2024.
Baca Juga
IHSG Berpotensi Koreksi Teknikal, Cek Saham KLBF, MDKA, MIDI dan ACES
"Terjadinya arus modal keluar ini kemungkinan dipengaruhi bergesernya konsensus pasar akan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed," ujar dia.
Sementara itu, kinerja rupiah juga belum menunjukkan keperkasaannya dihadapan dolar AS. Rupiah menunjukkan kinerja kurang baik, lebih buruk dari Rupee India, Peso Filipina, dan Yuan Tiongkok.
Kondisi lain yang perlu menjadi pertimbangan BI untuk mempertahankan BI Rate yaitu menyusutnya cadangan devisa Indonesia 0,87 (mtm) dari US$ 146,36 miliar pada Desember 2023 menjadi US$ 145,05 miliar pada Januari 2024.

