The Fed Tahan Suku Bunga Acuan, Masih Proyeksikan Dua Pemangkasan Tahun Ini
WASHINGTON, investortrust.id – Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan, meskipun tetap mengindikasikan bahwa pemangkasan kemungkinan akan terjadi tahun ini.
Dalam keputusan yang dinyatakan Rabu waktu AS atau Kamis (20/03/2025) pagi WIB, The Fed dihadapkan dengan kekhawatiran mengenai dampak tarif terhadap perlambatan ekonomi.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC/Federal Open Market Committee) mempertahankan tingkat suku bunga utama dalam kisaran 4,25% - 4,5%. Angka ini telah bertahan sejak Desember 2024. Keputusan ini sesuai dengan perkiraan pasar, yang menyebut hampir tidak ada kemungkinan perubahan pada pertemuan kebijakan The Fed dua hari pekan ini.
Baca Juga
Bersamaan dengan keputusan tersebut, para pejabat memperbarui proyeksi suku bunga dan ekonomi untuk tahun ini hingga 2027 serta mengubah laju pengurangan kepemilikan obligasi.
Meskipun terdapat ketidakpastian akibat tarif yang diberlakukan Presiden Donald Trump serta kebijakan fiskal ambisius berupa pemotongan pajak dan deregulasi, para pejabat masih memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar setengah poin persentase hingga 2025. The Fed biasanya melakukan perubahan dalam kenaikan atau penurunan sebesar seperempat poin persentase, sehingga proyeksi tersebut berarti akan ada dua pemangkasan tahun ini.
Investor menyambut baik kemungkinan pemangkasan lebih lanjut, dengan Indeks Dow Jones Industrial Average naik lebih dari 400 poin setelah keputusan diumumkan. Namun, dalam konferensi pers, Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyatakan bahwa bank sentral akan merasa nyaman mempertahankan suku bunga tetap tinggi jika kondisi mengharuskannya.
Baca Juga
Ekonomi AS Kuat, Powell Isyaratkan The Fed Tak Akan ‘Terburu-buru’ Turunkan Suku Bunga
"Jika ekonomi tetap kuat dan inflasi tidak bergerak secara berkelanjutan menuju 2%, kami dapat mempertahankan kebijakan yang ketat lebih lama. Namun, jika pasar tenaga kerja melemah secara tak terduga atau inflasi turun lebih cepat dari yang diperkirakan, kami dapat melonggarkan kebijakan sesuai kebutuhan," papar Powell, seperti dikutip CNBC.
Ketidakpastian Meningkat
Dalam pernyataan pascapertemuan, FOMC mencatat adanya tingkat ketidakpastian yang tinggi mengenai kondisi saat ini.
Baca Juga
Survei CNBC Fed: Pertumbuhan Ekonomi AS Melambat, Kekhawatiran Resesi Meningkat
"Ketidakpastian terhadap prospek ekonomi telah meningkat," demikian pernyataan dokumen tersebut. "Komite memperhatikan risiko di kedua sisi dari mandat gandanya."
The Fed memiliki dua tujuan utama, yaitu menjaga tingkat lapangan kerja penuh dan menjaga harga tetap stabil.
Dalam konferensi pers, Powell mencatat bahwa telah terjadi "moderasi dalam belanja konsumen" dan memperkirakan tarif dapat memberikan tekanan ke atas pada harga. Tren ini mungkin berkontribusi pada pandangan ekonomi yang lebih berhati-hati dari komite.
Kelompok ini menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi mereka dan menaikkan sedikit perkiraan inflasi. Para pejabat kini memperkirakan ekonomi hanya akan tumbuh sebesar 1,7% tahun ini, turun 0,4 poin persentase dari proyeksi terakhir di bulan Desember. Sementara itu, harga inti diperkirakan akan tumbuh pada laju tahunan 2,8%, naik 0,3 poin persentase dari estimasi sebelumnya.
Berdasarkan dot plot yang menunjukkan ekspektasi suku bunga para pejabat, pandangan terhadap suku bunga menjadi sedikit lebih hawkish dibandingkan Desember. Pada pertemuan sebelumnya, hanya satu peserta yang tidak memperkirakan perubahan suku bunga pada 2025, sedangkan kini jumlahnya meningkat menjadi empat.
Grafik menunjukkan ekspektasi suku bunga tetap tidak berubah dibandingkan Desember untuk tahun-tahun mendatang, dengan dua pemangkasan diharapkan terjadi pada 2026 dan satu lagi pada 2027 sebelum suku bunga dana federal stabil pada kisaran jangka panjang sekitar 3%.
Pengurangan 'Quantitative Tightening'
Selain keputusan suku bunga, The Fed juga mengumumkan pengurangan lebih lanjut terhadap program quantitative tightening (QT), yaitu langkah yang dilakukan untuk mengurangi kepemilikan obligasi di neraca bank sentral.
Kini, The Fed akan mengizinkan hanya $5 miliar dari hasil obligasi Treasury yang jatuh tempo untuk dilepas setiap bulan, turun dari $25 miliar sebelumnya. Namun, batas atas sekuritas berbasis hipotek tetap di angka $35 miliar, yang jarang tercapai sejak proses ini dimulai.
Gubernur The Fed, Christopher Waller, menjadi satu-satunya yang tidak setuju dengan keputusan ini. Namun, pernyataan resmi mencatat bahwa Waller sebenarnya mendukung kebijakan suku bunga tetap tetapi ingin melihat program QT tetap berjalan seperti sebelumnya.
"The Fed secara tidak langsung menurunkan suku bunga hari ini dengan mengambil langkah untuk memperlambat laju pengurangan kepemilikan Treasury," kata Jamie Cox, mitra pengelola di Harris Financial Group. Menurut dia, The Fed memiliki banyak faktor risiko yang perlu dipertimbangkan, dan langkah ini adalah pilihan termudah. Ini membuka jalan bagi The Fed untuk menghentikan pengurangan aset pada musim panas, dan jika beruntung, data inflasi akan memungkinkan pemangkasan suku bunga dana federal.
Kebijakan Pemerintahan Trump
Langkah The Fed ini diambil setelah awal yang penuh gejolak dalam periode kedua pemerintahan Trump. Presiden dari Partai Republik tersebut telah mengguncang pasar keuangan dengan tarif yang diterapkan terhadap baja, aluminium, dan berbagai barang lain dari mitra dagang global AS.
Baca Juga
Trump Akan Terapkan Tarif 25% pada Mobil, Farmasi, dan Semikonduktor
Selain itu, pemerintahannya mengancam akan memberlakukan putaran tarif yang lebih agresif setelah hasil tinjauan yang dijadwalkan dirilis pada 2 April.
Ketidakpastian mengenai kebijakan yang akan datang telah melemahkan kepercayaan konsumen, yang dalam survei terbaru meningkatkan ekspektasi inflasi akibat tarif. Belanja ritel meningkat pada Februari, meskipun tidak sesuai ekspektasi, tetapi indikator lain menunjukkan bahwa konsumen masih bertahan menghadapi situasi politik yang penuh ketidakpastian.
Pasar saham tetap rapuh sejak Trump menjabat, dengan indeks utama keluar-masuk dari wilayah koreksi karena pejabat pemerintahan memperingatkan adanya pergeseran ekonomi dari stimulus yang digerakkan oleh pemerintah menuju pendekatan yang lebih berorientasi pada sektor swasta.
CEO Bank of America, Brian Moynihan, pada hari Rabu sebelumnya menepis sebagian besar pandangan pesimistis di Wall Street. Pimpinan bank terbesar kedua di AS berdasarkan aset ini mengatakan bahwa data kartu kredit menunjukkan belanja tetap solid, dengan ekonom Bank of America memperkirakan pertumbuhan ekonomi sekitar 2% tahun ini.
Namun, ada beberapa tanda pelemahan di pasar tenaga kerja. Data tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) tumbuh dengan laju lebih lambat dari yang diperkirakan pada Februari, sementara ukuran luas tingkat pengangguran yang mencakup pekerja yang patah semangat dan pekerja paruh waktu yang tidak diinginkan naik setengah poin persentase dalam sebulan, mencapai level tertinggi sejak Oktober 2021.
Menurut David Russell, kepala strategi pasar global di TradeStation, langkah The Fed ini mencerminkan ketidakpastian yang dirasakan Wall Street. "Ekspektasi mereka agak stagflasioner karena perkiraan PDB menurun sementara inflasi sedikit naik, tetapi tidak ada keputusan yang benar-benar menentukan," katanya.

