Disorot BEI Soal HSC, Emiten Prajogo Pangestu (BRPT) Buka Suara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Manajemen PT Barito Pacific Tbk (BRPT) buka suara perihal keputusan Bursa Efek Indonesia (BEI) memasukkan anak usaha perseroan, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) ke dalam daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi (high shareholding concentration/HSC) sebesar 97,31%.
Corporate Communication Barito Pacific, Angelin Sumendap menegaskan, perseroan menghormati setiap kebijakan regulator dalam rangka memperkuat pasar modal domestik.
"Keputusan untuk memasukkan atau tidak memasukkan (indeks) kami sebagai emiten ke dalam sebuah indeks merupakan kewenangan Bursa dan kami tidak memiliki kontrol atas kewenangan ini," kata Angelin saat dihubungi investortrust.id, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga
Ingin Keluar dari Daftar HSC, Saham Barito Renewables (BREN) Dilepas Pengendali BRPT
BEI akan mulai memberlakukan status HSC pada 4 Mei 2026, yang juga akan menjadi salah satu faktor dalam evaluasi indeks saham, seperti LQ45, IDX80, dan IDX30. Kebijakan ini menjadi sorotan pasar mengingat BREN merupakan salah satu konstituen indeks LQ45.
Di sisi lain, manajemen juga menyoroti langkah peningkatan saham yang beredar di publik untuk diperdagangkan di pasar sekunder (free float) anak usahanya, BREN.
Angelin menjelaskan, pemegang saham utama telah melakukan aksi korporasi untuk menambah porsi saham publik. "Sebagai informasi, kedua pemegang saham BREN, yaitu Green Era dan Barito Pacific telah melakukan penjualan saham dengan tujuan menambah free float," ujar Angelin.
BRPT selaku pengendali sebelumnya melepas 30,40 juta saham BREN senilai Rp 251,38 miliar. Transaksi ini dilakukan secara bertahap pada 20 April 2026 dengan kisaran harga Rp 6.375 – Rp 6.675 per saham.
Dalam keterbukaan informasi BEI disebutkan bahwa aksi tersebut bertujuan meningkatkan likuiditas perdagangan saham BREN di pasar. Penjualan saham dimaksudkan untuk menambah free float dan likuiditas saham yang beredar BREN di pasar.
Pasca transaksi tersebut, kepemilikan BRPT di BREN sedikit turun dari 64,66% menjadi 64,63%, namun tetap sebagai pemegang saham pengendali. Dalam sepekan terakhir, saham BREN tercatat mengalami tekanan dan turun lebih dari 22,06% ke level Rp 4.930.
Baca Juga
IHSG Mendadak Terjun 1,27% ke Bawah 7.500, Tekanan Datang dari BREN dan DSSA
Angelin Sumendap menekankan, fokus utama perseroan tetap pada pengembangan bisnis jangka panjang guna menciptakan nilai bagi investor.
"Yang paling penting bagi kami adalah fokus utama kami sebagai perusahaan adalah untuk merealisasikan pertumbuhan bisnis agar dapat memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk bagi para investor," tegas dia.
Dia menambahkan, Barito Renewables sedang fokus untuk penambahan kapasitas terpasang geothermal yang diproyeksikan mencapai 1 giga watt (GW) pada akhir 2026.

