Dua Pekan Transaksi Saham Golden Flower (POLU) Terbang 162%, Ternyata Masih Merugi
JAKARTA, Investortrust.id – Harga saham PT Golden Flower Tbk (POLU) kembali melesat hingga auto reject atas (ARA) dalam dua hari terakhir. Padahal, saham ini baru dilepas dari jeratan suspsensi akibat lompatan harga dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham POLU ditutup melesat pada sesi I senilai Rp 130 (24,76%) menjadi Rp 655. Dengan demikian, harga saham POLU telah melesat dari level Rp 250 pada 5 September atau terhitung sejak pembukaan suspensi menjadi Rp 655 atau melesat 162% dalam kurun waktu 14 hari terakhir.
Baca Juga
Golden Flower adalah perusahaan manufaktur dan pengekspor garmen Indonesia. Perseroan memiliki 8 fasilitas produksi yang berada di kawasan berikat (bonded zone) dan menempati tanah seluas 8 hektare dengan total karyawan sekitar 3500 orang.
Perseroan menyebutkan bahwa sebanyak 85% ekspor perseroan ditujukan ke pasar Amerika Serikat, Eropa, Kanada, Australia, Afrika Selatan, Jepang, dan negara Asia lainnya. Sedangkan bertindak sebagai pengendali perseroan adalah PT Profashion Apparel dengan kepemilikan 79,99% saham.
Sebelumnya, BEI pernah menghentikan sementara (suspend) perdagangan saham POLU terhitung sejak 3 Juli hingga 5 September 2023, menyusul belum dipenuhinya laporan keuangan auditan yang berakhir per 31 Desember 2022, serta membayar denda keterlambatan penyampaian laporan keuangan. Begitu pula dengan laporan keuangan interim per 31 Maret 2023.
Baca Juga
Bookbuilding IPO, Logisticsplus (LOPI) Tawarkan Harga Rp 100 – Rp 150
Hingga keuangan kuartal I-2023, POLU mencatat penjualan Rp17,43 miliar turun dari penjualan Rp30,35 miliar di periode sama tahun sebelumnya. Beban pokok penjualan turun menjadi Rp14,31 miliar dari Rp24,87 miliar dan laba kotor diraih Rp3,12 miliar turun dari laba kotor Rp5,49 miliar.
Rugi operasi diderita sebesar Rp2,59 miliar usai meraih laba operasi Rp2,13 miliar tahun sebelumnya. Rugi sebelum pajak penghasilan diderita Rp3,27 miliar dari laba sebelum pajak penghasilan Rp1,81 miliar tahun sebelumnya.
Rugi bersih diderita Rp3,27 miliar dari laba bersih Rp1,81 miliar. Sedangkan total aset mencapai Rp222,95 miliar hingga periode 31 Maret 2023 naik dari total aset Rp209,34 miliar hingga periode 31 Desember 2022.

