Harga Minyak Turun, Ekonom Bicara Dampaknya
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia terpantau bergerak fluktuatif dalam sebulan belakangan, dan dalam tiga minggu terakhir, harga minyak turun signifikan. Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip Senin (26/02/2024), harga minyak Brent di bawah US$ 82 per barel, setelah turun 2,5% pada Jumat lalu. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat di atas US$ 76 per barel.
“Harga minyak dunia sekarang mungkin rata-rata sekitar US$ 70 hingga US$ 80-an per barel. Sebelumnya, memang, terjadi kenaikan juga karena dipengaruhi banyak faktor,” kata pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi saat dihubungi Investortrust, Senin (26/2/2024).
Baca Juga
Harapan Penurunan Suku Bunga Meredup, Harga Minyak Jatuh Hampir 3%
Harga Dievaluasi Berkala
Menurut Fahmy, jika harga minyak dunia mengalami kenaikan, hal itu tidak terlalu berpengaruh terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, seperti Pertamax. Pasalnya, selama ini, penetapan harga BBM nonsubsidi sudah diserahkan kepada mekanisme pasar.
“Mekanisme penetapan harga untuk BBM nonsubsidi itu kan sudah diserahkan pada mekanisme pasar, yang disesuaikan dengan keekonomian. Sehingga, fluktuasinya tidak lagi memengaruhi APBN untuk kompensasi dan seterusnya,” ujar Fahmy.
Baca Juga
Kendati demikian, untuk harga BBM bersubsidi seperti Pertalite akan mempunyai dampak yang cukup besar.Jika harga BBM subsidi tidak dinaikkan di saat harga minyak dunia mengalami kenaikan, lanjut dia, maka itu akan membebani APBN. Hal sebaliknya terjadi jika harga minyak turun.
“Kalau harga minyak naik, beban APBN untuk subsidi BBM akan meningkat. Tapi kalau dinaikkan, maka ini punya pengaruh terhadap perekonomian, akan menyulut inflasi, akan menurunkan daya beli, dan seterusnya,” papar dia.
Sementara itu, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting menyampaikan, penetapan harga BBM mengacu kepada keputusan menteri ESDM. Yang saat ini berlaku adalah Keputusan Menteri ESDM No 245.K/MG.01/MEM.M/2022 tentang formulasi harga JBU atau BBM nonsubsidi.
“Harga BBM nonsubsidi memang sesuatu yang dievaluasi berkala. Penyesuaian harga naik, penyesuaian harga turun, maupun harga tetap dipertimbangkan seluruh badan usaha sesuai regulasi yang berlaku," kata Irto Ginting.

