Likuiditas Longgar, Pemerintah Perpanjang Penempatan Dana di Bank BUMN
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan pihaknya terus mengkoordinasikan kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga likuiditas perekonomian. Sejak penempatan dana pemerintah pada September 2025 hingga Februari 2026, strategi fiskal disebut berjalan selaras dengan kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam menopang pertumbuhan likuiditas.
Purbaya mengatakan likuiditas uang primer atau M0 pada pekan pertama Februari 2026 masih tumbuh 11,7% secara tahunan. Ia menegaskan pertumbuhan M0 akan dijaga tetap berada pada level double digit guna memberikan ruang ekspansi kredit perbankan.
“Hasil koordinasi fiskal-moneter ini nyata dirasakan. Kredit tumbuh 10% di bulan Januari 2025, data BI menunjukkan 10,2% secara tahunan, dengan suku bunga yang terus kompetitif bagi masyarakat,” ujarnya dalam konperensi pers APBN KiTa di Jakarta, Senin (23/2/2026).
Ia menambahkan, suku bunga kredit telah turun menjadi 8,8% pada Januari 2026 dibandingkan posisi Agustus 2025 yang mencapai 9,12%. Tren ini dinilai mendukung peningkatan penyaluran kredit sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Seiring perkembangan tersebut, pemerintah memutuskan melanjutkan penempatan dana di perbankan milik negara sebesar Rp200 triliun. Dana yang akan jatuh tempo pada 13 Maret 2026 itu akan diperpanjang selama enam bulan ke depan.
Baca Juga
“Nanti akan langsung diperpanjang enam bulan ke depan. Jadi bank tidak perlu khawatir kehilangan likuiditas karena pemerintah akan terus mendukung likuiditas di pasar. Kami mengharapkan bank lebih bersemangat mencari debitur dengan tetap menjalankan prinsip kehati-hatian,” kata Purbaya.
Sebelumnya Bank Indonesia mencatat uang primer atau M0 adjusted pada Januari 2026 tumbuh 14,7% secara tahunan menjadi Rp2.193 triliun. Pertumbuhan ini melanjutkan tren bulan sebelumnya meski lebih rendah dari laju 16,8% pada periode sebelumnya.
Kenaikan M0 didorong oleh pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted sebesar 30,1% secara tahunan dan peningkatan uang kartal yang diedarkan sebesar 12,4% secara tahunan. Di sisi lain, giro sektor swasta di BI serta surat berharga yang diterbitkan BI dan dimiliki sektor swasta tercatat mengalami kontraksi masing-masing sebesar 5,8% dan 80,2% secara tahunan.
Likuiditas perekonomian dalam arti luas atau M2 juga menunjukkan peningkatan. Pada Januari 2026, M2 tumbuh 10% secara tahunan menjadi Rp10.117,8 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 sebesar 9,6%. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan uang dalam arti sempit sebesar 14,9% dan uang kuasi sebesar 5,4% secara tahunan.
Bank Indonesia menyebut peningkatan M2 dipengaruhi oleh pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat serta penyaluran kredit. Tagihan bersih kepada pemerintah pusat tumbuh 22,6% secara tahunan, meski lebih rendah dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 113,6%.

