Analis Sebut BNI (BBNI) Paling Siap Hadapi 2026 karena Likuiditas Longgar dan Efisiensi Terjaga
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dinilai berada pada posisi lebih siap memasuki 2026 dibandingkan bank-bank besar lain. Kesiapan itu tercermin dari kombinasi pertumbuhan kredit yang solid, likuiditas semakin longgar, struktur pendanaan kompetitif, serta efisiensi operasional terjaga, sehingga memberikan ruang luas untuk menangkap peluang pemulihan sektor perbankan.
Di tengah kondisi industri perbankan yang masih dibayangi tekanan suku bunga dan persaingan pendanaan, kinerja operasional BNI sepanjang 2025 menunjukkan fondasi yang relatif lebih seimbang antara pertumbuhan dan ketahanan risiko. Kondisi ini menempatkan BNI pada posisi strategis saat banyak bank lain masih berupaya menata ulang struktur likuiditas dan pendanaan.
Analis Bahana Sekuritas Razqi M. Kurniawan menilai struktur operasional BNI saat ini berada pada fase yang lebih matang dibandingkan periode sebelumnya. Menurutnya, efisiensi dan likuiditas yang membaik memberikan ruang bagi BNI untuk fokus pada pertumbuhan yang lebih berkualitas.
“Dengan likuiditas longgar dan struktur biaya yang lebih efisien, BBNI berada pada posisi yang lebih siap menangkap peluang pertumbuhan kredit tanpa meningkatkan risiko secara signifikan,” tulis Razqi dalam riset terbarunya dikutip Jumat (16/1/2026).
Dari sisi intermediasi, kredit BNI tumbuh 10.5% secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga kuartal III 2025 mencapai Rp 812,2 triliun sejalan dengan target industri dan mencerminkan kemampuan bank mempertahankan momentum penyaluran pembiayaan di tengah selektivitas kredit yang lebih ketat. Pertumbuhan tersebut dinilai berkualitas karena tidak diiringi peningkatan risiko aset, sehingga mendukung keberlanjutan kinerja jangka menengah.
Likuiditas BNI juga menunjukkan perbaikan signifikan. Rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) hingga kuartal III 2025 turun ke level 86.9%, jauh lebih longgar dibandingkan sebagian bank besar lain yang masih berada di atas 90%. Posisi likuiditas ini memberikan ruang ekspansi kredit yang lebih besar ke depan tanpa tekanan pendanaan yang berlebihan.
Baca Juga
Dari sisi struktur pendanaan, biaya dana atau cost of fund (COF) BNI tercatat berada di kisaran 2.8%. Angka ini memang mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelumnya, tetapi masih tergolong kompetitif di tengah tren kenaikan biaya dana industri perbankan. Struktur pendanaan yang didukung peningkatan dana murah atau current account saving account (CASA) membantu bank menjaga tekanan biaya dana tetap terkendali.
Analis menilai kombinasi likuiditas longgar dan biaya dana yang relatif kompetitif menjadi modal penting bagi BNI untuk menjaga margin dan mendukung ekspansi kredit pada fase awal penurunan suku bunga. Dengan struktur seperti ini, BNI dinilai lebih siap memanfaatkan siklus suku bunga yang mulai berbalik.
Selain likuiditas dan pendanaan, efisiensi operasional juga menjadi kekuatan utama BNI. Rasio beban terhadap pendapatan atau cost to income ratio (CIR) tercatat stabil di level 46.1% hingga kuartal III 2025, menunjukkan disiplin pengendalian biaya yang konsisten. Angka ini lebih baik dibandingkan sebagian bank besar lain yang masih mencatatkan CIR di kisaran 48% atau lebih.
Efisiensi tersebut tidak terlepas dari digitalisasi proses, optimalisasi jaringan, serta pengendalian beban operasional yang dilakukan secara berkelanjutan dalam beberapa tahun terakhir. Upaya ini memperkuat struktur biaya dan mendukung peningkatan profitabilitas jangka panjang.
Analis lain menilai kesiapan BNI tidak hanya tercermin dari sisi neraca, tetapi kualitas pertumbuhan. Setelah menyelesaikan proses penurunan risiko atau de-risking selama 5 tahun terakhir, BNI kini memasuki fase penguatan profitabilitas yang lebih berkelanjutan.
Konsensus analis turut mencerminkan pandangan positif terhadap prospek BNI pada tahun depan. Berdasarkan konsensus 36 analis yang dihimpun Bloomberg, mayoritas atau 31 analis memberikan rekomendasi beli atau buy dengan target harga rata-rata saham BNI berada di level Rp 5.023 untuk 12 bulan ke depan.
Baca Juga
Kemendes dan BNI Sepakati Kerja Sama Tuntaskan Masalah Kemiskinan di Desa
Target harga tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 11% dari harga penutupan Rp 4.540 per saham pada Kamis (15/1/2026) dan menegaskan posisi BNI sebagai salah satu kandidat utama pemimpin pemulihan sektor perbankan pada 2026. Optimisme ini diperkuat oleh sejumlah lembaga riset sekuritas yang konsisten merekomendasikan beli dengan target harga di atas level pasar saat ini.
Bahana Sekuritas, melalui Razqi M. Kurniawan, memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp 5.600. Sementara Ciptadana Sekuritas lewat Erni M. Siahaan menetapkan rekomendasi buy dengan target Rp 5.275. OCBC Sekuritas melalui Budi Rustanto juga merekomendasikan buy dengan target Rp 5.300, sementara Panin Sekuritas yang dianalisis Nico Laurens memberikan target paling agresif di level Rp 6.500. Deretan rekomendasi tersebut mempertegas keyakinan pasar terhadap prospek BNI dalam 12 bulan ke depan.

