Tren Likuiditas Valas BNI Masih Terjaga Dengan Baik
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) atau BNI mengatakan bahwa tren likuiditas valas perseroan masih dapat terjaga dengan baik ke depannya. Lebih lanjut, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) masih menjadi prioritas BNI dalam pendanaan valas.
“Terkait dengan kondisi likuiditas valas di BNI, saat ini masih terjaga dengan baik dan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh regulator, maupun sesuai dengan risk appetite dan risk tolerance BNI. Likuiditas tersebut juga cukup untuk mendukung rencana ekspansi kredit valas yang kami jalankan,” ujar Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini pada konferensi pers, Kamis (22/8/2024).
Novita mengatakan, saat ini perseroan tengah fokus untuk mendukung ekspansi kredit valas sebagai bagian dari strategi bisnis perseroan. Instrumen valas jangka pendek yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) seperti sekuritas dan kondisi likuiditas valas tetap menjadi salah satu alternatif penempatan yang dipertimbangkan.
Baca Juga
Laba BNI Tumbuh 3,8% Capai Rp 10,7 Triliun, Kredit Naik 11,7% Tembus Rp 727 triliun di Semester I
“Keputusan untuk menggunakan instrumen ini akan selalu mempertimbangkan kondisi likuiditas dan juga kebutuhan operasional kami,” ujarnya.
Selain itu, BNI juga akan melakukan inisiasi pendanaan jangka menengah sampai dengan jangka panjang yang berasal dari non dana pihak ketiga, baik secara bilateral ataupun sindikasi loan, atau melalui instrumen pasar modal untuk menjaga sustainabilitas pertumbuhan bisnis bank. Dari sisi dana pihak ketiga, BNI juga banyak mendapatkan potensi penempatan devisa hasil ekspor untuk nasabah-nasabah eksportir yang cukup signifikan dan sustain.
Sebagai informasi, pada April lalu, BNI berhasil menerbitkan global bond senilai US$ 500 juta yang mengalami oversubscribe hingga 6,3 kali. “Hal ini menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap BNI. Dengan demikian, kami optimis likuiditas valas akan tetap stabil dan dapat terus mendukung pertumbuhan bisnis dan kebutuhan nasabah,” tuturnya.
Baca Juga
Asal tahu, pada semester I 2024 BNI mencatatkan laba bersih yang tumbuh 3,8% mencapai Rp 10,7 triliun, yang sejalan dengan ekspektasi market. Pencapaian laba ini didorong oleh kinerja kredit yang mengalami akselerasi di kuartal kedua sehingga BNI mampu mencatatkan pertumbuhan kredit per Juni 2024 sebesar 11,7% YoY menjadi Rp 727 triliun, meningkat dibandingkan pertumbuhan kredit di kuartal pertama yang sebesar 9,6% YoY. Pertumbuhan kredit ini dihasilkan dari ekspansi yang prudent di segmen berisiko rendah, yaitu korporasi blue chip baik swasta dan BUMN, kredit konsumer, dan perusahaan anak.

