Pangan Jadi Biang Kerok Inflasi, Ekonom Soroti Masalah Distribusi dan Daya Beli
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust. — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,64% secara bulanan (month to month/mtm) pada Desember 2025. Secara tahunan, inflasi tercatat 2,92% (year on year/yoy) dan secara tahun kalender juga sebesar 2,92%, sebagaimana diumumkan pada Senin (5/1/2026).
Menanggapi rilis tersebut, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, menilai bahwa tekanan inflasi sepanjang kuartal III hingga kuartal IV 2025 terutama berasal dari kelompok volatile food, yang kontribusinya lebih besar dibandingkan inflasi inti maupun harga yang diatur pemerintah seperti BBM, listrik, dan gas.
“Elastisitas inflasi saat ini sangat dipengaruhi harga pangan. Ini menandakan adanya peningkatan harga pangan sejak Q3 2025, meskipun secara statistik tahunan beberapa komoditas sebenarnya mencatatkan surplus produksi,” kata dia kepada Investortrust, Senin (5/1/2026).
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada kapasitas produksi tahunan, melainkan pada kelancaran distribusi, tingginya biaya logistik, serta ketidakstabilan ketersediaan pangan dari bulan ke bulan. Kondisi tersebut menyebabkan fluktuasi pasokan, di mana pada bulan tertentu terjadi oversupply sementara pada bulan lainnya justru defisit, sehingga memicu lonjakan harga.
Eliza menjelaskan bahwa faktor cuaca dengan intensitas hujan tinggi pada Q3 dan Q4 2025 turut memperburuk kondisi produksi dan distribusi pangan, terutama di wilayah pedesaan yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur jalan dan penyimpanan.
“Ketiadaan cold storage membuat komoditas pangan yang mudah rusak tidak bisa disimpan dalam jangka waktu lama. Akibatnya, saat oversupply harga jatuh, dan ketika produksi terganggu harga melonjak tajam. Cold storage seharusnya bisa menjadi instrumen stabilisasi harga,” jelasnya.
Baca Juga
Inflasi Desember 2025 0,64% MtM dan 2,92% YoY, Inflasi Tertinggi di Aceh
Secara tahunan, kenaikan harga pangan terjadi di hampir seluruh komoditas, kecuali bawang putih yang mengalami penurunan sebesar 10,3% yoy. Adapun kenaikan harga tertinggi tercatat pada cabai rawit merah (+29,9% yoy), bawang merah (+20,9% yoy), dan cabai merah keriting (+20,2% yoy).
Selain pangan, tekanan inflasi juga datang dari harga energi. Meski harga Biosolar (Rp6.800 per liter) dan Pertalite (Rp10.000 per liter) tidak mengalami perubahan, Eliza mencatat kenaikan signifikan pada Pertamax (+5,4% yoy), Dexlite (+9,7% yoy), dan Pertamina Dex (+8,7% yoy), yang kini berada di level tertinggi dalam setahun terakhir. Kondisi ini mencerminkan ketidakstabilan harga energi baik di tingkat global maupun domestik.
Eliza mengingatkan, kenaikan harga-harga tersebut tidak diiringi dengan pertumbuhan upah yang memadai, sehingga daya beli masyarakat semakin tergerus, terutama kelompok kelas menengah yang rentan.
Baca Juga
Lampaui Nasional, Inflasi Aceh, Sumut, dan Sumbar Melejit Akibat Bencana
“Kebijakan pemerintah belum banyak menyentuh kelas menengah nanggung. Mereka tidak menerima bantuan sosial, sementara pendapatannya relatif stagnan,” kata Eliza.
Ia menambahkan, kenaikan harga pangan—yang menyumbang lebih dari separuh pengeluaran rumah tangga—ditambah inflasi pada komponen perumahan, air, listrik, dan transportasi, membuat masyarakat terpaksa mengurangi tabungan bahkan menggerus simpanan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Ini sinyal penting bahwa stabilisasi harga pangan dan perlindungan daya beli harus menjadi fokus utama kebijakan ke depan,” pungkas Eliza.

