BI Jaga Keseimbangan 'Supply - Demand' Valas
JAKARTA, investortrust.id - BI akan menjaga kestabilan rupiah melalui keseimbangan supply-demand valas di market melalui triple intervention khususnya di spot dan DNDF (non-deliverable forward), menyusul anjloknya rupiah terhadap indeks dolar Amerika Serikat (AS) usai libur panjang cuti bersama Hari Raya Idulfitri 1445 Hijriyah.
Berdasar pantauan perdagangan Jisdor, mata uang Garuda ditutup anjlok 303 poin ke level Rp 16.176 per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter (DPM) Bank Indonesia (BI) Edi Susianto membeberkan sejumlah langkah yang akan dilakukan untuk mengintervesi posisi rupiah dalam perdagangan kurs.
Dikatakan oleh Edi, BI akan menjaga kestabilan rupiah melalui keseimbangan supply-demand valas di market melalui triple intervention khususnya di spot dan DNDF.
Selanjutnya BI disebut akan meningkatkan daya tarik aset rupiah. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong capital inflow, seperti melalui daya tarik SRBI dan hedging cost.
Dan yang ketiga, untuk mengantisipasi dampak meluas akibat depresiasi tersebut, dalam waktu dekat BI akan melakikan koordinasi dan membuka komunikasi dengan stakeholder terkait.
Baca Juga
Rupiah Melemah, Menperin Ungkap Dampak Ini bagi Industri Manufaktur Domestik
"Seperti dengan Pemerintah, Pertamina dan lainnya," kata Edi saat dihubungi Investortrust.id melalui pesan WhatsApp.
Sentimen Depresiasi Rupiah
Kepala DPM BI tersebut turut membeberkan sejumlah sentimen yang memaksa mata uang rupiah terjun hingga 303 poin dalam pantauan penutupan perdagangan Jisdor, Selasa (16/4/2024).
Dalam keterangan tertulisnya, Edi menjelaskan selama periode libur lebaran terdapat perkembangan global dimana rilis fundamental ekonomi AS menunjukkan penguatan, seperti data inflasi dan penjualan ritel yang di atas ekspektasi pasar.
Tidak cukup sampai disitu, posisi mata uang rupiah semakin tertekan imbas dari meningkatnya eskalasi ketegangan di Kawasan Timur Tengah usai Iran melakukan serangan rudal dan pesawat nirawak ke pangkalan militer Israel akhir pekan lalu.
"Perkembangan tersebut menyebabkan makin kuatnya sentimen risk off, sehingga mata uang EM khususnya Asia mengalami pelemahan terhadap USD," ujar Edi.
Selain itu selama periode libur lebaran, pasar non-deliverable forward (NDF) di offshore telah menunjukkan posisi rupiah menembus angka Rp 16.000 per USD.
"Sehingga Rupiah dibuka di sekitar angka tersebut (posisi di pasar NDF)," sebut Edi.

