Airlangga: Ekonomi Syariah Jadi Motor Pertumbuhan Menuju Indonesia Emas 2045
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8% dengan mengoptimalkan berbagai potensi strategis, termasuk penguatan ekonomi dan keuangan syariah sebagai pendorong utama.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa ekonomi syariah berperan penting sebagai motor pertumbuhan nasional. “Ekonomi dan keuangan syariah adalah pilar yang terus kita bangun. Dalam State of the Global Islamic Economic Report, Indonesia kini menempati posisi ketiga dunia,” ujar Airlangga saat membuka Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di Jakarta, Rabu (8/10/2025).
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Berbalik Anjlok 0,51%, Sebaliknya 6 Saham Dipimpin NTBK justru ARA
Menurutnya, kekuatan ekonomi syariah Indonesia berada pada sektor modern and modest fashion, pariwisata ramah muslim, serta industri farmasi dan kosmetik halal. Untuk kebutuhan pakaian muslim, nilai pasar domestik mencapai US$ 20 miliar atau sekitar Rp 289 triliun.
Sementara itu, pada sektor makanan dan minuman halal, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang menjalankan sharia full compliance dengan nilai industri mencapai US$ 109 miliar atau sekitar Rp 1.000 triliun.
Airlangga menargetkan Indonesia mampu naik peringkat menjadi nomor satu dalam ekonomi syariah global. “Jika komitmen terhadap sharia compliance terus diperkuat, bukan tidak mungkin posisi ketiga dunia akan segera bergeser ke peringkat pertama,” tegasnya.
Baca Juga
Bukan Sekadar Trofi, The Best Syariah Awards Akui Dedikasi Industri Keuangan Wujudkan Prinsip Islami
Sebagai bagian dari prioritas RPJPN 2025–2045, pemerintah menyiapkan strategi penguatan ekosistem keuangan syariah dan industri halal nasional.
Beberapa langkah yang dilakukan antara lain memperluas penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah, memaksimalkan fungsi bullion bank melalui PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dan PT Pegadaian (Persero), serta mendorong pesantren menabung emas. “Penyaluran KUR Syariah dalam satu dekade mencapai Rp 75 triliun kepada 1,3 juta debitur,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah memperkuat literasi keuangan syariah dan digitalisasi lewat integrasi sistem SiHalal serta percepatan penerbitan sertifikasi halal. “Tahun ini sudah terbit 5,9 juta sertifikat dari target 10 juta,” tambahnya.
Baca Juga
Aksi Jual Asing masih Deras hingga Outflow Saham Rp 54 Triliun, Ternyata Ini Pemicunya
Airlangga menyebut pemerintah telah memfasilitasi empat kawasan industri halal di Jababeka, Cikarang, Serang, Bintan, dan Sidoarjo, serta membentuk Indonesia Islamic Financial Center. “Ekonomi syariah bukan hanya tentang halal dan haram, tetapi juga tentang pembangunan yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar Airlangga.
Menurutnya, ajang ISEF menjadi momentum penting untuk mendorong inovasi, memperluas jejaring global, dan menghadirkan solusi konkret dalam memperkuat peran ekonomi syariah menuju visi Indonesia Emas 2045.

