Stabilitas Ekonomi Tak Cukup bagi Indonesia Menuju Indonesia Emas 2045
JAKARTA, investortrust.id - Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Amalia Adininggar Widyaninggar mengatakan stabilitas perekonomian tak cukup sebagai landasan Indonesia untuk menuju visi Indonesia Emas 2045. Amalia mengatakan Indonesia tak bisa hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 5%.
“Kita tidak dapat melompat menjadi negara dengan pendapatan ekonomi tinggi jika hanya tumbuh sebesar 5%” kata Amalia saat memberi paparan di kantor Asian Development Bank (ADB), Jakarta, Jumat (8/3/2024).
Menurut Amalia, Indonesia membutuhkan percepatan pertumbuhan ekonomi hingga 6% selama 20 tahun mendatang. Meski demikian, untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi tersebut ada banyak tantangan yang mengadang.
Baca Juga
Di Forum Bisnis RI-Australia, Airlangga Jelaskan Visi Indonesia Emas 2045
“Salah satu tantangan terbesar yang mengadang yaitu produktivitas Indonesia yang harus diselesaikan,” ujar dia.
Selain itu, Indonesia juga perlu menemukan mesin perekonomian baru untuk mengakselerasi pertumbuhan. Saat ini, mesin pertumbuhan Indonesia masih mengandalkan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.
Amalia menyebut Indonesia telah 30 tahun menjalani status sebagai negara berpendapatan menengah. Artinya jika menggunakan target pendapatan ekonomi tinggi selama 20 tahun, Indonesia butuh 50 tahun untuk keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah.
Baca Juga
Jokowi Yakin Indonesia Jadi Negara Maju dalam 3 Periode Kepemimpinan
“Ini tidak masalah. Di Korea Selatan, mereka menjadi negara dengan status ekonomi menengah sekitar 17-18 tahun. Malaysia juga menjalani masa yang panjang. Chile yang saat ini menjadi negara berpenghasilan tinggi juga menjalani 50 tahun menjadi negara berpenghasilan kelas menengah,” ujar dia.
Meski demikian, Amalia mengatakan, pemerintah Indonesia tak ingin menunggu 50 tahun untuk keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah. “Untuk itulah Indonesia memerlukan inovasi ekonomi untuk mencapai visi itu,” kata dia.

