Suharso Monoarfa: Lewati Periode “Jendela Emas”, Menuju Indonesia Emas 2045
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Suharso Monoarfa menyebut, di periode tahun 2025-2029 bonus demografi bukan lagi jadi bahasan utama. Pada periode tersebut, kata Suharso, golden window opportunity atau jendela emas lah yang menjadi bahasan utama, sebagai modal menuju Indonesia Emas 2045.
“Kalau tren 2025-2029 tidak menunjukkan tren agar graduate (lolos) dari middle income trap, maka akan tertunda capaian itu (Indonesia Emas 2045)” kata Suharso di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (4/62024).
Suharso mengatakan untuk merancang capaian itu, kementerian yang dipimpinnya mulai melakukan perhitungan, dimulai dari jumlah penduduk. Dia mengatakan total fertility rate (TFR) Indonesia saat ini sudah turun mendekati 2. Artinya, dua orang anak akan menggantikan dua orang tuanya.
Dengan jumlah penduduk yang terus bertambah, kata dia, Bappenas dapat merancang strategi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat hingga lapangan kerja. “Bukan bonus demografi yang kita bicarakan hari ini. Bonus demografi adalah sekarang ini,” kata Suharso.Bonus demografi lanjutnya, akan berakhir pada 2030-an. Nah , di periode bonus demografi saat ini, Bappenas mulai merancang transisi demografi ketika TFR mulai statis namun tingkat pendapatannya tidak bergerak.
“Karena itu, 2025 hingga 2029 kita ingin naik (pendapatannya) kalau itu naik, kita nggak mau hitung lagi soal pertumbuhan ekonomi (tidak menjadi tolok ukur pertumbuhan, red),” ucap dia.
Baca Juga
Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi 6-8% untuk Gapai Visi Indonesia Emas 2045
Suharso menyebut dengan kenaikan pada pendapatan, Gross National Income (GNI) per kapita pada periode 2025-2029 Indonesia diharapkan dapat berada di angka US$ 5.500 hingga US$ 5.700.
Pada 2023 lalu, Indonesia masuk dalam upper middle income country (UMIC) dengan GNI per kapita mencapai US$ 4.580. Posisi ini telah diraih Indonesia pada 2019 dengan GNI per kapita sebesar US$ 4.070. Sayagnya posisi Indonesia harus turun ke lower middle income country (LMIC) akibat Covid-19.
Dalam kesempatan yang sama Suharso juga mengatakan dengan GNI per kapita mencapai rentang US$ 5.500 hingga US$ 5.700, Indonesia dapat mengejar target menjadi negara maju. “Itu yang kita kejar, jadi kita tidak mau lagi pertumbuhan ekonomi, ke depan ukurannya adalah GNI per kapita itu yang kita pakai,” ucap dia.
Sementara itu, dokumen KEM-PPKF 2025 menunjukkan asumsi dasar makro dan postur makro fiskal jangka menengah 2026 hingga 2029 menunjukkan kenaikan target pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia ditargetkan berada pada rentang 5,5% hingga 6% secara tahunan.
Setelah itu, pada 2027, pertumbuhan ekonomi ekonomi Indonesia ditargetkan mencapai 5,6% hingga 6,1% secara tahunan. Pada 2028 dan 2029, pertumbuhan ekonomi secara tahunan Indonesia ditargetkan masing-masing 5,7% hingga 6,2% dan 5,8% hingga 6,6%.

