Ekonom Indef: Ekonomi Maluku Utara Tumbuh, tapi Belum Serap Pengangguran
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi di Provinsi Maluku Utara pada 2023 mengalami pertumbuhan yang melaju pesat sebesar 20,49% cumulative to cumulative (ctc).
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Maluku Utara mencapai Rp 85,1 triliun. Meski demikian, secara ctc, pertumbuhan di Maluku Utara melambat 22,94% dari tahun 2022.
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara melesat karena ekspor dari produk hilirisasi nikel.
Baca Juga
Optimistis Tren Pertumbuhan Ekonomi Berlanjut, Peneliti Indef Ini Beberkan Tiga Alasan
Berdasarkan catatan BPS, dari sisi produksi, pertumbuhan dari sisi lapangan usaha pertambangan dan penggalian membukukan 49,06% pada 2023.
“Kalau kita bedah ada di mana sampai mereka tinggi, karena didorong oleh ekspor dari produk-produk hilirisasi mereka seperti feronikel, nikel matte, MHP, maupun nikel sulfat, jadi memang ini mendorong pertumbuhan ekonomi di sana tinggi sekali,” kata Tauhid kepada investortrust.id, Senin (12/02/2024).
Tauhid mengatakan meski tumbuh ada faktor lain yang menjadi pengurang. Faktor itu meningkatnya impor yang tercatat sebesar 13,85%.
“Memang pengurangnya impor bahan baku penolong untuk proses hilirisasi,” kata dia.
Baca Juga
Dari sisi pengeluaran, berdasar sektor yang tumbuh yaitu sektor pertambangan dan pengolahan. “Mining karena tadi hasil kegiatan produksi bijih nikel dan pengolahannya,” ujar dia.
Meski belum ada data terbaru, Tauhid menduga ada beberapa yang mengindikasikan pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara tak serta merta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan data tingkat pengangguran terbuka Agustus 2023, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Maluku Utara mencapai 4,31%.
“Kalau misalnya, tingkat pengangguran terbuka di provinsi ini masih 4,31% ya middle. Tapi, artinya masih banyak pekerjaan rumah, meski ekonomi tumbuh tapi 4,31% bagi sebuah wilayah yang central growth itu menjadi problem,” kata dia.
Selain Maluku Utara, Tauhid juga mencermati perubahan struktur ekonomi di Pulau Jawa. Menurutnya, berbeda dengan Maluku Utara yang menjadi basis tambang dan pengolahan, Pulau Jawa kini tidak lagi mengandalkan sektor industri.
“Tapi basis sektor perdagangan, sektor pertanian, dan jasa,” ucap dia.
Dari sisi pengeluaran, Pulau Jawa masih ditopang oleh konsumsi. Sektor ini, kata Tauhid, hanya mampu tumbuh maksimal 5% karena konsumsi memiliki level kejenuhan.
“Jadi kalau orang didorong mengonsumsi besar-besaran ada titik kepuasan, tetapi kalau di investasi di ekspor impor selagi harga lagi bagus, permintaan bagus hajar terus,” kata dia.

