Harga Beras Melambung, Kenaikan Inflasi Didorong Komponen Harga Bergejolak
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Februari 2024 naik, baik secara bulanan (mom) dan tahunan (yoy). Inflasi secara bulanan naik 0,37% dan tahunan 2,75%.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah mengatakan, tekanan inflasi didorong oleh komponen harga bergejolak. Secara bulanan, komponen harga bergejolak mengalami inflasi 1,53% dengan andil inflasi 0,25%. Adapun secara tahunan, inflasi harga bergejolak mengalami inflasi 8,47% dan memberi andil terhadap inflasi tahunan 1,3%. “Ini dengan komoditas yang dominan (memberi andil terbesar terhadap inflasi) yaitu beras, cabai merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras,” katanya pada konferensi pers yang digelar Badan Pusat Statistik (BPS), di kantornya, Jakarta, Jumat (01/03/2024).
Baca Juga
Komponen Inti Inflasi 0,14%
Habibullah mengatakan pada komponen inti terjadi inflasi sebesar 0,14% secara bulanan, dengan andil 0,09%. Adapun secara tahunan, inflasi pada komponen inti tercatat sebesar 1,68% dengan andil 1,08%.
Pada periode bulanan, komoditas yang dominan memberi andil terhadap inflasi adalah minyak goreng, nasi dengan lauk, emas perhiasan, dan mobil. Sementara itu, pada periode tahunan, komponen yang memberi andil yaitu emas perhiasan, gula pasir, biaya kontrak rumah, nasi dengan lauk, dan biaya sewa rumah.
Baca Juga
Komponen lain yang mendasari inflasi yaitu komponen harga diatur pemerintah. Pada periode bulanan, komponen ini mengalami inflasi sebesar 0,15% dengan andil inflasi sebesar 0,03%. Pada periode tahunan, komponen yang diatur pemerintah mengalami inflasi 1,67%, dengan sumbangsih 0,33% terhadap inflasi.
Pada periode bulanan, komponen komoditas yang dominan yaitu sigaret kretek mesin (SKM) dan tarif angkutan udara. “Komoditas yang dominan memberi andil inflasi adalah SKM, tarif angkutan udara, sigaret kretek tangan (SKT), dan sigaret putih mesin (SPM),” kata Habibullah.
Kewaspadaan terhadap inflasi pangan juga disampaikan Deputi Gubernur BI Juda Agung. Dia mewaspadai inflasi pada komoditas seperti beras, cabai merah, dan bawang putih.
“Core-nya kami sudah nyaman, tapi volatile food kita harus waspadai bersama, terutama beras dan yang musiman cabai, bawang. Terutama beras, karena memberi dampak signifikan terhadap daya beli masyarakat,” ujar dia.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI edisi Februari 2024, BI mencatat inflasi volatile food meningkat 7,22% (yoy), terutama komoditas beras dan bawang. BI menyebut ini dikarenakan dampak El-Nino, faktor musiman, dan bergesernya musim tanam. Sementara itu, inflasi inti menurun dari 1,80 (yoy) pada Desember 2023 menjadi 1,68% pada Januari 2024, dipengaruhi imported inflation yang rendah sejalan dengan tetap stabilnya nilai tukar rupiah. "Inflasi administered prices relatif stabil sebesar 1,74% (yoy)," tambahnya.

