Dituding Penyebab Likuiditas Perbankan Seret, BI Mulai Kurangi Lelang SRBI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mengaku mengurangi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Ini karena kinerja imbal hasil SRBI tenor 12 bulan yang turun lebih dari 40-50 basis poin (bps).
“Kami terus menurunkan lelang SRBI,” kata Perry, saat laporan hasil rapat KSSK kuartal II-2025, di kantor LPS, Jakarta, Senin (28/7/2025).
Perry mengatakan posisi instrumen SRBI per 23 Juli 2025 mengalami penurunan. Posisi SRBI pada awal Januari 2025 masih mencapai Rp 923,5 triliun dan saat ini mencapai Rp 754,1 triliun. “Artinya SRBI sudah turun Rp 169,4 triliun,” kata dia.
Dengan penurunan porsi instrumen SRBI, maka bisa diartikan pula bahwa likuiditas perbankan dalam kondisi meningkat karena berkurangnya dana pihak ketiga perbankan yang disimpan dalam bentuk surat utang milik pemerintah. Sejumlah pengamat menuding seretnya likuiditas perbankan domestik, dan keringnya tingkat kucuran dana kredit ke industri karena mulai muncul fenomena lazy bank, ketika perbankan memilih menyimpan dananya di instrumen surat utang milik pemerintah yang zonder risiko, ketimbang mengucurkan kredit ke sektor riil yang masih menyimpan risiko default.
Baca Juga
BI Ingin Tambah Likuiditas di Pasar, Berencana Kurangi Outstanding SRBI
Sementara itu hingga 25 Juli 2025, Perry menjelaskan BI telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 147,6 triliun. Pembelian itu dilakukan di pasar sekunder dan pasar private.
“Pembelian SBN di BI merupakan bagian dari eratnya sinergi antara kebijakan moneter BI dengan fiskal,” ujar dia.
Berdasarkan data transaksi BI, selama 21-24 Juli 2025, investor asing telah menjual neto sebesar Rp 60,19 triliun di instrumen SRBI.
Dalam tiga pekan terakhir, outflow di SRBI bahkan menembus Rp 27,86 triliun. Outflow ini terjadi sejak BI memangkas suku bunga acuan pada Mei dan Juli yang masing-masing sebesar 25 bps.

