Chatib Basri: Gara-Gara SRBI, Likuiditas Keuangan bakal Dihantam Lagi
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom dan mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengungkapkan dalam enam bulan mendatang likuiditas perbankan diprediksi kian mengetat. Faktor utamanya dating dari instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang telah dikeluarkan bank sentral pada September 2023.
“Likuiditas semakin ketat karena ada instrumen lain yang menarik likuiditas dari pasar yang namanya SRBI,” kata Chatib diakses dari Mandiri Market Outlook 2024, Kamis (17/7/2024).
Dia mengatakan, kemunculan SRBI akan membuat crowding out di pasar keuangan. Sebagian besar dana tersebut akan akan mengalir ke instrument SRBI.
Baca Juga
SRBI-SBN Sedot Dana Rp 1.351 Triliun, Mayoritas dari Dalam Negeri
“Inilah yang kemudian tentu akan berpengaruh karena nanti implikasinya adalah cost of fund-nya akan jadi makin naik. Karena orang akan melihat mana yang lebih menguntungkan termasuk dibandingkan bond, bahkan goverment bond,” ujar dia.
Dia mengatakan, kebijakan moneter Indonesia memang tidak bisa sepenuhnya independen. BI, kata dia, tidak hanya harus menjaga inflasi di bawah 3% tetapi juga memiliki target lain. “BI punya objective lain, selain (inflasi) mengatur nilai tukar,” kata dia.
Pengaruh The Fed yang belum kunjung menurunkan suku bunga di rentang 5,25% hingga 5,5% membuat BI mempertahankan BI Rate di kisaran 6,25%. Dia berandai, jika BI menurunkan bunga, maka akan terjadi parity dari interest rate.
“Jadi ada risiko nilai tukarnya yang akan kena. Karena itu saya melihat BI masih akan mempertahankan interest rate di level ini. Implikasinya adalah, menurut saya, likuiditas tetap masih akan berlangsung di paruh kedua 2024,” ujar dia.
Baca Juga
Ekonom: Investor Domestik Nonbank Serbu SRBI Rp 34,4 Triliun Juni
Dia mengatakan, keputusan pemerintah dan tim gugus tugas sinkronisasi Prabowo-Gibran dengan menetapkan defisit di bawah 3% telah memberi rasa aman kepada pasar.
Berdasarkan data dari BI dan Kemenkeu yang diolah Riset Investortrust.id, SBN hingga Juli ini sudah menarik dana masyarakat Rp 630,43 triliun, yang mayoritas dari dalam negeri. Sedangkan SRBI sejak penerbitan September 2023 hingga Juni 2024 telah menarik dana masyarakat Rp 721 triliun, yang sebagian besar juga dari dalam negeri.
Naiknya dana yang diserap SRBI karena tingginya imbal hasil yang meningkat sekitar 7,43% untuk tenor 12 bulan, 7,39% untuk tenor 9 bulan, dan 7,30% untuk tenor 3 bulan.
"Perbankan menghadapi tantangan dari dampak crowding out effect," papar Wakil Direktur Utama PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) atau KB Bank Robby Mondong, kepada investortrust.id,
Baca Juga
Hingga Juli ini, instrumen investasi itu sudah menarik dana sekitar Rp 1.351,43 triliun, dengan mayoritas dari dalam negeri. Akibatnya, kalangan perbankan Indonesia saat ini masih merasakan crowding out effect akibat tingginya suku bunga SRBI dan yield SBN. Crowding out ini merupakan kondisi ketika tingkat bunga surat utang pemerintah dan otoritas moneter tinggi yang berdampak swasta kalah bersaing dalam memperebutkan dana yang terbatas, sehingga menurunkan investasi.
Indikasi crowding out ini pernah disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati saat menyampaikan pidato di gedung MPR/DPR, awal Juni 2024. Dia mengatakan akan menguatkan koordinasi fiskal dan moneter untuk mewaspadai crowding out, keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik.Langkah ini menjadi salah satu dasar dalam pertimbangan APBN 2025.
Baca Juga
SRBI Rp 666,5 Triliun Bantu Stabilitas Rupiah, Persepsi Soal Kesinambungan Fiskal Menekan
“Koordinasi kuat antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dilakukan untuk menjaga agar penerbitan instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan kebijakan moneter BI tidak menimbulkan crowding out,” kata Sri Mulyani saat berpidato di gedung MPR/DPR, Jakarta, Selasa (4/6/2024).
Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan menjaga keseimbangan antara pricing yang menarik bagi investor. Penetapan pricing dibuat agar menarik bagi investor dengan cost of fund yang harus ditanggung APBN dan ekonomi secara luas. “Ini penting karena 14% investor pasar SBN merupakan investor global yang sensitif terhadap harga dan dapat memicu instabilitas atau outflow jika tidak di-manage dengan tepat,” kata dia.

