Burden Sharing Dituding Jadi Salah Satu Penyebab Tertekannya Rupiah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat depresiasi rupiah pada Kamis sore (18/9/2025). Mata Uang Garuda melemah -68 poin atau melemah 0,41% menjadi Rp 16.498 per dolar AS.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi beberapa sentimen. Salah satunya soal independensi Bank Indonesia (BI). Terdapat pertanyaan seputar independensi BI terutama setelah program burden sharing untuk mendanai pengeluaran pemerintah.
“Menjadi sentimen negatif bagi pasar,” kata Sutopo, kepada investortrust.id, Kamis (18/9/2025).
Selain itu, dua sentimen yang mencuat yaitu adanya kekhawatiran kondisi finansial domestik dan tak stabilnya politik Tanah Air. Setelah pemecatan Sri Mulyani Indrawati sebagai menteri keuangan, tumbuh kewaspadaan dari investor dan akhirnya cenderung menarik modalnya.
Sutopo mengatakan pemangkasan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,75% meski bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, hal ini justru dinilai membuat rupiah melemah.
“Karena imbal hasil aset dalam negeri menjadi kurang menarik bagi investor asing. Investor cenderung memindahkan modalnya ke negara dengan suku bunga lebih tinggi,” tegas dia.
Faktor global pun turut memainkan peran penting. Setelah memangkas FFR, the Fed mengindikasikan hanya akan ada satu pemangkasan FFR pada 2026 dan satu kali lagi pada 2027.
“Sikap yang kurang agresif ini membuat indeks dolar AS menguat karena ekspektasi pasar akan melonggarkan kebijakan yang lebih cepat tidak terpenuhi,” kata dia.
Baca Juga
Rupiah Nyaris Rp 16.500 per US$, Efek Sentimen Pelebaran Defisit dan Penurunan BI Rate
Tak hanya independensi BI, Kantor Kepala Ekonom Bank Mandiri mencatat terjadi sentimen terhadap independensi the Fed. Investor mulai bertanya mengenai pengaruh politik mengingat inflasi AS masih relatif tinggi.
Sentimen dari the Fed merangsek ke pasar saham domestik. IHSG turun -0,2% ke 8.008 setelah enam hari mengalami kenaikan. Pascapemangkasan FFR, investor akan melakukan aksi ambil untung yang akan menyeret sektor keuangan dan properti.
Nilai transaksi saham mencapai Rp 21,9 triliun. Dengan demikian, rata-rata nilai transaksi harian 2025 mencapai Rp 14,7 triliun. Investor asing membukukan net sell Rp 358,3 miliar.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mencatat rupiah melemah 0,46% ke Rp 16.505 per US$ per pukul 17.00 WIB. Perdagangan rupiah di pasar spot berada di kisaran Rp 16.428-Rp 16.520 per US$.
Andry mengatakan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun 0,8 bps ke 6,3% dan imbal hasil obligasi pemerintah global tenor 10 tahun naik 0,5 bps ke 4,9%.

