Serangan AS Bikin Dunia Bergejolak, Rupiah Ikut Merosot Ditekan Dolar
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus merosot sepanjang perdagangan Senin (23/6/2025) hari ini. Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI) ditutup melemah 85 poin (0,51%) le level Rp 16.484 per dolar AS.
Senada, pergerakan rupiah di pasar spot juga tidak terlepas dari tekanan dolar AS. Data Bloomberg per 15.30 WIB, kurs rupiah bergerak terdepresiasi 95 poin (0,58%) ke level Rp 16.492 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, pasar tengah mencerna serangan AS terhadap situs nuklir Iran selama akhir pekan, yang menandai eskalasi yang berpotensi mengerikan dalam konflik Timur Tengah, yang menandai masuknya Amerika secara resmi ke dalam konflik Israel-Iran yang baru.
Adapun Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa serangan itu telah menyebabkan "kerusakan monumental" dan telah memusnahkan fasilitas tersebut, meskipun hal ini tidak dapat segera diverifikasi.
"Investor sekarang mengamati bagaimana Teheran akan menanggapi serangan itu," kata Ibrahim melalui keterangan tertulis, Senin (23/6/2025)
Sebagaimana diberitakan, titik fokus utama adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran utama untuk Asia dan Timur Tengah, yang dapat diblokir oleh Teheran. Laporan media Iran mengatakan Teheran sedang mempertimbangkan langkah tersebut.
"Blokade di selat tersebut akan sangat mengganggu pengiriman minyak dan gas ke beberapa wilayah Asia dan Eropa, yang dapat menyebabkan gangguan ekonomi yang lebih besar di kawasan tersebut," jelas Ibrahim.
Baca Juga
Rupiah dan Mata Uang Emerging Markets Kompak Melemah terhadap Dolar AS
Dari dalam negeri PT Pertamina Patra Niaga, subholding commercial & trading dari PT Pertamina (Persero) menyampaikan stok bahan bakar minyak (BBM) masih aman di tengah keinginan Iran menutup Selat Hormuz menyusul serangan bom AS, sekutu Israel ke negara Ayatollah Ali Khamenei itu.
“Untuk stok (BBM) saat ini aman,” ucap Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Heppy Wulansari ketika dihubungi dari Jakarta, Senin (23/6/2025) dilansir Antara.
Sementara Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso juga menyampaikan, selain stok BBM, pasokan minyak mentah di dalam negeri juga masih aman. Pernyataan tersebut merespons situasi terkini disetujuinya usulan penutupan Selat Hormuz oleh Parlemen Republik Islam Iran.
Penutupan Selat Hormuz, kata dia, berdampak pada distribusi minyak mentah mengingat selat tersebut dilalui 20% pelayaran minyak mentah.
Ketegangan Iran dan Israel meningkat sejak Jumat (13/6/2025) ketika Israel melancarkan serangan udara di sejumlah lokasi di Iran, termasuk fasilitas militer dan nuklir. Serangan Israel memicu Teheran untuk melancarkan serangan balasan ke sejumlah titik di negara tersebut pada hari yang sama.

