Timur Tengah Makin Tegang! Dolar AS Menguat Bikin Rupiah Merosot
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot dalam perdagangan Senin (16/6/2025) pagi. Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah melemah 5 poin (0,03%) ke level Rp 16.308 per dolar AS.
Indeks dolar (DXY) naik di atas 98,2 pada hari Jumat, bangkit dari posisi terendah multi-tahun karena meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu permintaan untuk aset safe haven.
Menurut Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro, penurunan pasar terjadi setelah serangan militer Israel terhadap Iran, yang menargetkan situs nuklir dan pejabat senior. Teheran membalas dengan cepat, meningkatkan konflik menjadi perang terbuka. Selama akhir pekan, kedua belah pihak melancarkan serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi masing-masing, yang memicu lonjakan harga minyak.
"Iran juga mengancam akan menutup Selat Hormuz—titik kritis untuk pengiriman minyak global—yang menambah kegelisahan pasar," kata Andry dalam keterangan tertulis, Senin (16/6/2025).
Baca Juga
Kurs Rupiah Melemah ke Rp 16.293 per Dolar AS saat Timur Tengah Memanas
Sementara itu, Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap pada pertemuan mendatang, meskipun ada tekanan yang meningkat dari Presiden Trump untuk melonggarkan kebijakan. Bank sentral menghadapi latar belakang yang kompleks dari ketidakpastian terkait tarif dan meningkatnya ketidakstabilan geopolitik.
Minggu ini, ketegangan geopolitik di Timur Tengah akan tetap menjadi fokus minggu depan menyusul serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran, yang meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas.
"Pasar juga akan mencermati setiap kemajuan negosiasi perdagangan antara AS dan mitra utamanya. Sementara itu, perhatian beralih ke KTT G7 di Kanada, tempat para pemimpin ekonomi terbesar dunia akan bertemu untuk membahas tantangan global utama," ujar Andry.
Pekan ini juga merupakan pekan yang sibuk untuk keputusan kebijakan moneter. Federal Reserve, People's Bank of China, Bank of Japan, dan Bank of England diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah.

