Mantan Mendag Gita Wirjawan Sebut Bahasa Inggris Salah Satu Syarat Indonesia Jadi Negara Maju, Kok Bisa?
JAKARTA, Investortrust.id - Mantan Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan menyebut kemampuan warga berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris menjadi syarat jika Indonesia ingin menjadi negara maju. Hal itu terkait dengan penyampaian yang meyakinkan agar pemodal asing mau menanamkan uangnya di Indonesia.
Menurutnya, satu-satunya cara bagi negara dengan kekuatan menengah untuk menjadi lebih baik atau lebih besar adalah dengan mencapai pembentukan modal. Namun hal tersebut tak bisa dilakukan hanya dengan menghimpun modal dari dalam negeri.
"Hal ini hanya dapat terjadi secara eksternal jika masyarakat Indonesia belajar bahasa internasional untuk memahami dan mendefinisikan pembentukan modal," katanya dalam diskusi The 10th Annual Indonesia Economic Forum bertema 'Unleashing the Power of Digitalization Across the Nation' di The Habibie & Ainun Library, Jakarta Selatan, Rabu (29/11/2023).
Baca Juga
Sayangnya, dia mengungkap masih kurang dari 10% orang Indonesia yang fasih berbahasa Inggris. Gita mengatakan tujuan Indonesia untuk menjadi negara maju perlu didukung minimal 100 juta warga mahir berbahasa internasional.
"Kita harus mencari cara untuk membuat setidaknya 100 juta orang Indonesia berbicara bahasa Inggris. Inilah sebabnya kita kalah dengan orang Singapura dan India. Mereka mempunyai keunggulan kompetitif karena dapat berkomunikasi secara global," ujarnya.
"Kalau kita tidak punya 100 juta orang Indonesia yang mampu berbicara bahasa internasional, kita akan dibelenggu. Jika ada 400 juta orang di Asia Tenggara yang bisa berbicara bahasa internasional, kita semua akan terbelenggu," tuturnya.
Baca Juga
Industri Hulu Migas Sumbang 3,5% pada PDB, Insentif Investasi Perlu Dipertahankan
Gita menegaskan kemampuan bahasa Inggris dan pendidikan yang memadai warga Indonesia perlu ditingkatkan karena kenyataannya sebagian besar modal saat ini berada di negara-negara demokrasi liberal barat.
"Saya menyebutnya jumlah uang beredar M2, jumlah uang beredar di Amerika Serikat dan semua negara demokrasi liberal barat lainnya dan juga Jepang, Korea Selatan serta China yang bukan negara demokrasi liberal berjumlah sekitar 100 kali PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia. Jadi kita harus keluar dan mendapatkan modal," tuturnya. (CR-14)
Baca Juga
Indonesia Luncurkan Dokumen Komitmen Investasi Transisi Energi US$ 21,6 Miliar

