Ekonom Trimegah: Penundaan Tarif Perlu Dimanfaatkan untuk Konsolidasi Perdagangan
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menyebut, penundaan tarif oleh Amerika Serikat (AS) diharapkan dapat menjadi momentum untuk konsolidasi kebijakan perdagangan.
“Dengan adanya perang dagang, peluang re-shoring dari beberapa negara yang diekspektasikan akan terkena dampak lebih besar dari Indonesia, seperti Vietnam, Bangladesh, China, dan Thailand bisa dioptimalkan,” kata Fakhrul, dalam keterangan resminya, Kamis (10/4/2025).
Baca Juga
Donald Trump Tunda Penetapan Tarif Impor, Wamenkeu: Tunggu Reaksi Banyak Negara
Fakhrul mengatakan, industri seperti tekstil, garmen, sepatu, dan furnitur dapat menjadi memiliki prospek positif bagi Indonesia. “Terkait hal ini, kebijakan terkait dengan deregulasi untuk perizinan usaha dan kemudahan ekspor harus dipercepat,” ujar dia.
Di sisi neraca dagang dengan AS, Fakhrul mengatakan, peluang untuk meningkatkan impor dari Amerika Serikat (AS) terkait sektor perminyakan, bahan kimia, serta bahan pangan merupakan poin negosiasi yang perlu dimaksimalkan.
Perubahan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) menjadi hal penting untuk dilakukan secepatnya, karena banyak perusahaan AS ingin berinvestasi di Indonesia, terhambat karena hal ini.
Ke depannya, Fakhrul menyadari bahwa volatilitas adalah hal yang jamak terjadi di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia, termasuk Indonesia akan mengalami perlambatan pada 2025. “Dengan adanya tensi perang dagang, kita harus mendukung sirkulasi ekonomi domestik Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata dia.
Presiden Donald Trump menunda pemberlakuan tarif baru yang awalnya ditetapkan 9 April 2025 tengah malam waktu setempat. Trump menurunkan tarif baru atas impor dari sebagian besar mitra dagang AS menjadi 10% untuk 90 hari guna membuka negosiasi perdagangan dengan negara-negara tersebut.
Baca Juga
AS Siap Pungut Tarif Baru atas Impor dari 86 Negara, Eskalasi Perang Dagang Meningkat
Trump mengumumkan penangguhan tersebut beberapa jam setelah barang dari hampir 90 negara menjadi subjek tarif balasan yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.

