Ekonom Trimegah: Saatnya BI Pangkas Suku Bunga untuk Dongkrak Ekonomi Nasional
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah ketidakstabilan global akibat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, penyesuaian arah kebijakan suku bunga sangat dibutuhkan. Kebijakan ini dibutuhkan untuk mendongkrak ekonomi dalam negeri.
Chief Economist PT Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian mengatakan, para pemangku kebijakan perlu menyiapkan segala skenario. Sebab, perang dagang ini bakal berlangsung dalam waktu yang lama.
Baca Juga
Guna merespons kondisi tersebut, dia mengatakan, pemerintah melalui otoritas moneter perlu menyesuaikan arah kebijakan suku bunga acuan. Saat ini, ada peluang bagi Bank Indonesia (BI) untuk memangkas suku bunga acuan atau BI Rate guna mendongkrak perekonomian nasional.
"Akan sangat bijaksana, kalau Bank Indonesia mulai melanjutkan pemotongan suku bunga di bulan April ini, dengan mempertimbangkan potensi perlambatan ekonomi yang muncul, serta sangat rendahnya realisasi inflasi yang saat ini berada dibawah target 2.5+/-1%," jelasnya kepada Investortrust, Selasa (22/4/2025).
Meski demikian ia menyadari, pemangkasan suku bunga atau BI Rate dihadapkan pada tantangan stabilitas nilai tukar rupiah. Berdasarkan data, Senin (21/4/2025), nilai tukar ditutup level Rp 16.808 per dolar AS. Meski melemah, kondisi ini bisa dimanfaatkan pemerintah.
Baca Juga
Begini Target dan Rekomendasi Terbaru Saham Aspirasi Hidup (ACES)
"Terkait pelemahan rupiah ini, kita harus memanfaatkan momentum untuk meningkatkan ekspor, terutama dari daerah berbasis komoditas. Di sisi lain, sudah terbukti bahwa dampak passthrough dari pelemahan rupiah kepada tingkat inflasi Indonesia juga semakin terbatas," ungkapnya.
Ke depan, menurut dia, pemerintah Indonesia seharusnya tidak takut terhadap pelemahan mata uang. Bukan tanpa sebab, hal itu karena sebagian besar utang di sistem keuangan dilakukan dalam mata uang domestik (Rupiah).
Baca Juga
IHSG Sesi I Akhirnya Capai 6.503 Terdorong Saham Big Cap Berikut
"Kita harus memanfaatkan momentum pelemahan rupiah untuk meningkatkan daya saing industri dalam negeri. Rupiah lemah bukan pembawa ketakutan, tapi akan menjadi sebuah tools penting," tandasnya.
Adapun pasar kini menunggu keputusan rapat dewan gubernur (RDG) BI periode 22-23 April 2025 yang dimulai hari ini terkait arah kebijakan suku bunga acuan BI Rate. Diketahui pada pertemuan dewan gubernur periode 18-19 Maret 2025, bank sentral memutuskan untuk mempertahankan BI Rate 5,75%. Selain itu BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility 5,00% dan suku bunga lending facility 6,50%.

