Ekonom Citi: Ini akan Terjadi Jika The Fed Tak Pangkas Suku Bunga
JAKARTA, investortrust.id - Chief Economist Citi Indonesia Helmi Arman memprediksi, jika bank sentral Amerika Serikat tidak kunjung memangkas suku bunga acuannya di tahun ini atau hingga tahun depan, akan memengaruhi kondisi pasar obligasi AS. Kebijakan Federal Reserve (The Fed) itu bisa mengakibatkan volatilitas pada imbal hasil US treasury.
Meningkatnya volatilitas yield US treasury, lanjut Helmi, dapat mempengaruhi arus modal atau arus dana ke pasar di negara berkembang atau emerging market, termasuk Indonesia. Hal ini mengurangi kestabilan nilai tukar mata uang.
“Di saat nilai tukar kita volatile, itu biasanya BI (Bank Indonesia) harus intervensi di pasar valas (valuta asing) yang lebih banyak. Intervensi ini akan berdampak negatif terhadap likuiditas rupiah di perbankan,” katanya di Jakarta, Rabu (22/5/2024).
Terkecuali, kata Helmi, bila BI melakukan sterilisasi dari intervensinya tersebut dengan cara menambah kembali likuiditas di perbankan. Ini misalnya dengan cara intervensi di pasar obligasi, di mana pembelian surat berharga negara (SBN) oleh BI di pasar sekunder akan menambah likuiditas.Baca Juga
NPI Triwulan II Membaik, Investasi Portofolio Kembali Masuk Neto US$ 1,8 Miliar
“Ataupun dengan perubahan atau penurunan tingkat GWM (giro wajib minimum). Hal ini akan menambah suplai rupiah di perbankan,” ujar Helmi.
Di sisi lain, ia memprediksi The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya sebanyak empat kali di tahun ini. Ini setiap penurunan masing-masing sekitar 25 basis poin (bps).
Baca Juga

