Bos LPS Sebut Tarif Trump Bantu Daya Saing Produk Indonesia ke AS, Kok Bisa?
JAKARTA, Investortrust.id – Penerapan tarif impor terhadap sejumlah negara penikmat surplus perdagangan oleh Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada awal April ini sejatinya bisa dianggap sebagai langkah Trump untuk membantu ekspor Indonesia ke AS.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa di acara Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia, yang digelar di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (8/4/2025).
“Trump membantu daya saing produk kita di Amerika. Itu first impact. Kalau itu diketahui pasar, investor-investor di pasar, nggak akan panik,” ujar Purbaya.
Purbaya memaparkan argumentasinya bahwa sejatinya Trump lewat penetapan tarif telah meningkatkan daya saing produk domestik yang diekspor ke Indonesia, dengan mengambil empat produk Indonesia yang memiliki porsi ekspor terbesar ke Amerika Serikat. Keempatnya adalah golongan Harmonized System (HS) 85 berupa produk electrical machinery and equipment and parts thereof; sound recorders and television; lalu HS 61 berupa produk apparel and clothing accessories, knitted or crocheted; HS 64 berupa produk footwear, gaiters; dan HS 64 berupa apparel and clothing accessories, not knitted or crocheted.
Diketahui untuk keempat golongan tarif tersebut, kompetitor Indonesia untuk ekspor ke Amerika Serikat adalah China, Mexico, Vietnam, Kamboja, Italia, dan Bangladesh. “Jadi di daerah kita ini di Asia, musuh kita China, Vietnam, Kamboja, Bangladesh… Kita lihat, negara itu dikenakan tarif lebih tinggi dari Indonesia,” kata Purbaya.
Baca Juga
LPS Sebut Langkah Pemerintah Jaga Permintaan Domestik Sangat Tepat
Sebagaimana diberitakan, dalam konferensi pers di Rose Garden, Gedung Putih, Washington, Donald Trump pada 2 April 2025 lalu menetapkan tarif impor lebih tinggi terhadap Kamboja sebesar 49%, dan Vietnam sebesar 46%. Sedangkan Bangladesh dikenakan tarif 37%, masih lebih tinggi dari tarif yang dikenakan AS terhadap Indonesia sebesar 32%. Sementara itu China setelah jatuh tenggat 9 April 2025 justru dikenakan tarif sebesar 84%.
“Apa kita rugi, apa untung? Kalau saya lihat itu, saya (katakan) untung,” ujarnya. “Ini bantuan tersembunyi Trump untuk Indonesia sebetulnya. Kalau kita melihat dari sisi positifnya. Jadi kita nggak usah takut,” imbuhnya.
Baca Juga
Dalam kesempatan yang sama Purbaya juga menyampaikan bahwa fundamental perekonomian Indonesia masih relatif baik selama pemerintah masih mampu menjaga domestic demand. Ia pun memaparkan fakta bahwa kontribusi PDB Nasional yang terbesar berasal dari konsumsi yang memiliki porsi sebesar 63,36%.
Komponen konsumsi initerdiri ataskonsumsi rumah tangga, LNPRT, dan pemerintah. Pada kuartal IV 2024, konsumsi LNPRT mengalami peningkatan pesat sebagai dampak dari Pilkada. Sehingga total kontribusi domestic demand mencapai 95,44%, yang merupakan hasil gabungan dari Konsumsi Rumah Tangga & LNPRT, Investasi dan Konsumsi Pemerintah.
“Excluding export, kita masih 75%. Kalau kita jaga domestic demand kita, global marit-marit, biar saja. Jadi langkah kebijakan yang saya lihat dari Pak Prabowo tadi dan Bu Sri Mulyani kelihatan sekali kita memang menjaga domestic demand, itu saya pikir langkah yang tepat sekali,” tuturnya.

