Daya Saing KEK Masih Belum Merata, Arsjad Rasjid Soroti Pentingnya Daya Saing
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Dewan Pengawas Indonesia Business Council (IBC) Arsjad Rasjid menekankan pentingnya peningkatan daya saing atau competitiveness di seluruh Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Indonesia. Meski mengapresiasi keberhasilan beberapa kawasan seperti Batang dan Kendal yang disebut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melampaui pertumbuhan ekonomi nasional, Arsjad menilai secara keseluruhan performa KEK di Tanah Air masih belum optimal.
Hal itu diungkapkan Arsjad saat ditemui usai acara Konferensi Pers Indonesia Economic Summit (IES) 2026 bertajuk “Coming Together to Boost Resilient Growth and Shared Prosperity” di Fairmont Hotel, Jakarta, Senin (26/1/2026). Gelaran ini akan berlangsung pada 3–4 Februari 2026 mendatang di Hotel Shangri-La, Jakarta.
Menurut Arsjad, persetujuannya terhadap pernyataan Airlangga didasari pada fakta bahwa beberapa titik memang telah menunjukkan hasil positif. Namun, ia mengingatkan bahwa jumlah KEK di Indonesia tidak hanya terbatas pada dua atau tiga lokasi saja. Masih banyak kawasan lain yang perkembangannya belum merata dan memerlukan dorongan lebih kuat agar mampu berkontribusi maksimal terhadap ekonomi nasional.
"Apa yang dikatakan Pak Airlangga, saya setuju. Bahwa beberapa daripada kawasan ekonomi itu sudah bagus. Nah, kawasan ekonomi kita kan bukan 2-3 tempat itu. Tapi banyak. Nah, ini yang saya mengatakan belum optimal. Yang lain-lain yang belum optimal, nanti kita bantu yang lain untuk lebih optimal lagi," ujar Arsjad.
Baca Juga
Investasi di Kawasan Ekonomi Khusus 2024 Capai Rp 90,1 Triliun
Arsjad menjelaskan, dalam dunia investasi, status "optimal" adalah target yang bergerak dinamis. Setiap tahun, kawasan ekonomi di berbagai negara terus berbenah mencari formula daya saing baru untuk menarik aliran modal masuk.
"Nah, tapi kalau kita mau bicara selalu kita harus memikirkan competitiveness. Jadi harus berpikir terus bagaimana how to be better, better, better, better. Gak boleh puas. Jadi kalau kita gak boleh, karena udah mikirin optimal gak bisa. Kita harus mikirin. Supaya akan apa? Kompetisi lho. Setiap tahunnya, setiap kawasan ekonomi di negara-negara lain akan mencari suatu competitiveness. Dan kita harus bisa terus berkompetisi dengan yang lain. Karena tadi yang kita perlukan kan modal. Kapital untuk masuk," jelas Arsjad.
Ketika ditanya mengenai kawasan mana saja yang dianggap belum maksimal, Arsjad enggan memberikan penilaian spesifik terhadap titik-titik tertentu. Ia memilih untuk melihatnya secara objektif melalui data arus investasi. Kawasan yang memiliki lebih banyak investor masuk secara otomatis dianggap lebih sukses dibandingkan kawasan yang masih sepi peminat.
"Saya bukan judge. Cuman bahwa ada yang udah lebih banyak sukses, kelihatan kok banyak yang lebih banyak investor masuk ke situ kan pasti lebih baik daripada yang belum," ucap Arsjad.
Baca Juga
Astra Property 'Lirik' Investasi Pergudangan di Kawasan Ekonomi Khusus
Terkait strategi pengisian kawasan, Arsjad memberikan pandangan mengenai diversifikasi investor. Menurutnya, fokus utama sebuah KEK seharusnya disesuaikan dengan potensi dan lokasi strategis daerah tersebut. Ia tidak menutup kemungkinan bahwa fokus pada satu jenis industri tertentu bisa menjadi kunci sukses asalkan didukung oleh infrastruktur yang tepat.
"(Tapi apakah lebih baik investornya satu jenis aja?, red) Tergantung. Kalau saya melihatnya kawasan ekonomi itu harus lebih fokus terhadap kompetitiveness di daerah tersebut. Lokasi daripada kawasan ekonomi tersebut. Nah itu yang kalau ada anchor yang besar misalnya contohnya, itu pengembangannya akan lebih cepat," pungkas Arsjad.
Sebelumnya diberitakan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi signifikan. Hal tersebut terlihat dengan sejumlah daerah yang emiliki KEK dengan pengelolaan yang baik, seperti Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal yang mampu mencatat pertumbuhan ekonomi di kisaran 8%-9%, jauh di atas rata-rata pertumbuhan provinsi maupun nasional.
Di Kabupaten Batang, kehadiran KEK Industriopolis Batang telah mendorong akselerasi investasi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Kabupaten Batang pada 2024 mencapai 6,03% dan meningkat tajam pada 2025, dengan pertumbuhan triwulan III 2025 tercatat 8,52% (yoy), didorong terutama oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang kuat.
“Pengalaman Kabupaten Batang dan Kendal menunjukkan bahwa KEK bukan hanya instrumen insentif investasi, tetapi juga katalis transformasi ekonomi daerah. KEK yang dirancang dengan baik, didukung infrastruktur, kemudahan berusaha, serta integrasi dengan tenaga kerja lokal, terbukti mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan,” ujar Airlangga, dikutip dari siaran pers Kemenko Perekonomian, Senin (15/12/2026).
Selain Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal juga menunjukkan kinerja ekonomi yang sangat kuat. Pada triwulan III 2025, perekonomian Kabupaten Kendal tumbuh 8,84% (yoy), tertinggi di Provinsi Jawa Tengah, didorong oleh aktivitas industri dan investasi di kawasan industri dan KEK. Capaian ini mengindikasikan adanya penguatan ekosistem industri regional, termasuk spillover effect antarwilayah di koridor Batang-Kendal-Semarang, serta menegaskan bahwa pengembangan KEK mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan di daerah.

