BI dan The Fed Kompak Tahan Bunga, Rupiah Menguat
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah rebound dalam pembukaan perdagangan valas di pasar spot, Kamis (20/03/2025) pagi. Berdasarkan data Yahoo Finance, kurs rupiah dibuka menguat 10 poin (0,06%) ke level Rp 16.509 per dolar Amerika Serikat. Yahoo Finance mencatat, kurs rupiah kemarin melemah ke Rp 16.519 per dolar AS dalam penutupan perdagangan.
"Indeks dolar AS memangkas beberapa kenaikan tetapi tetap berada di wilayah positif pada hari Rabu, sekitar 103,4, karena para pedagang mencerna keputusan FOMC ( Federal Open Market Committee) terbaru. Namun, Bank Sentral AS merevisi proyeksi pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) ke bawah dan menaikkan perkiraan inflasi, yang menandakan kekhawatiran tentang prospek ekonominya," kata Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro, dalam laporan pada Kamis (20/o3/2025).
Baca JugaKepemilikan SBN oleh Dapen hingga Ritel Naik, Asing Net Buy Rp 16,83 Triliun
Pasar kini juga sejalan dengan proyeksi The Fed. The Fed diperkirakan memutuskan dua kali pemotongan suku bunga tahun ini, dengan yang pertama diperkirakan pada bulan Juni atau Juli.
Adapun menguatnya kurs rupiah pada pembukaan perdagangan pagi ini bertepatan setelah Bank Indonesia (BI) dan Federal Reserve atau The Fed kompak mempertahankan suku bunga acuan.
The Fed Tahan Bunga 4,25-4,5%
The Fed mempertahankan suku bunga acuan Fed Funds Rate di 4,25%-4,5% dalam pertemuannya periode Maret 2025. Keputusan ini diyakini sesuai dengan perkiraan mayoritas pasar.
Meski The Fed memproyeksikan dua kali pemangkasan suku bunga pada sisa tahun ini, namun ada catatan bahwa "ketidakpastian terhadap prospek ekonomi telah meningkat".
“Secara keseluruhan, ekonomi kuat dan telah mencapai kemajuan yang signifikan menuju tujuan kami dalam dua tahun terakhir. Kondisi pasar tenaga kerja tetap solid dan inflasi telah bergerak lebih dekat ke target jangka panjang sebesar 2%, meski masih sedikit tinggi,” kata Ketua Federal Reserve Jerome Powell dalam konferensi pers usai pengumuman keputusan tersebut.
Baca Juga
Rupiah dan IHSG Melemah, Dorong Ekonomi dan Daya Beli untuk Tarik Investasi
Di akhir perdagangan, para pelaku pasar menyambut baik keputusan The Fed yang tetap memproyeksikan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, serta pernyataan Powell yang menegaskan bahwa ekonomi AS masih kuat. Dia juga mengatakan bahwa dampak penaikan tarif impor oleh Presiden AS Donald Trump terhadap inflasi kemungkinan hanya bersifat sementara.
BI Rate Bertahan di 5,75%
Sebelumnya, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75% dalam rapat dewan gubernur (RDG) tanggal 18-19 Maret 2025. Dewan gubernur juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility 5,0% serta suku bunga lending facility 6,50%
"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18-19 Maret 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI rate sebesar 5,75%. Hal ini juga sejalan kebijakan moneter prostabilitas serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap dalam sasaran 2,5±1%, serta efektivitas dalam menjaga aliran masuk modal asing dan stabilitas nilai tukar rupiah," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers di kantor BI, Jakarta, Rabu (19/03/2025).

