Ekonom Sebut Melemahnya Daya Beli Bikin Indonesia Surplus Perdagangan
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro memberikan pandangan usai pemerintah merilis Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan pada Februari 2025 sebesar US$ 3,21 miliar. Ia menyebut surplus yang dicatatkan Indonesia kali ini ada kaitannya dengan melemahnya daya beli domestik.
"Di tengah ada hambatan global, melemahnya daya beli domestik terutama di kalangan kelas menengah ke bawah, dapat mengurangi impor barang konsumsi. Ini berpotensi menyebabkan surplus perdagangan yang lebih tinggi dari yang diharapkan di masa mendatang," katanya dalam laporan tertulis, Jakarta, Senin (17/03/2025).
Baca Juga
Jelang Dewan Gubernur BI Rapat Rupiah Menguat, Bunga Diharapkan Turun
Di sisi lain, ekonom Bank Mandiri itu mengungkap surplus neraca perdagangan yang stabil pada awal tahun 2025 juga bisa mencerminkan kinerja perdagangan Indonesia yang tangguh, meski ketidakpastian global meningkat. Sementara permintaan batu bara dan CPO (minyak sawit mentah) tetap stabil, moderasi harga yang berkelanjutan menjadi tantangan utama tahun ini.
Dari sentimen global, lanjut dia, dorongan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memperluas produksi minyak dan menghidupkan kembali penggunaan batu bara dapat meningkatkan pasokan, yang selanjutnya mendorong harga turun. Sementara itu, proteksionisme AS yang meningkat dapat meredam prospek permintaan global.
"Kami memperkirakan neraca transaksi berjalan (current account/CA) tahun 2025 berada pada level -1,1% hingga -1,3% dari PDB (produk domestik bruto). Ini sedikit meningkat dari -0,60% pada tahun 2024, tetapi masih dalam kisaran yang dapat dikelola untuk mendukung stabilitas eksternal Indonesia," prediksinya.
Surplus US$ 3,21 Miliar
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali surplus pada Februari 2025. Surplus pada Februari 2025 sebesar US$ 3,21 miliar.
Meski begitu, catatan surplus ini lebih rendah dibandingkan Januari 2025. “Pada Februari 2025, RI mencatatkan surplus US$ 3,21 miliar atau turun US$ 0,83 miliar secara bulanan. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus selama 58 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (17/03/2025).
Amalia mengatakan surplus pada Februari 2025 ditopang oleh komoditas nonmigas, yang surplus sebesar US$ 4,84 miliar. Komoditas penyumbang utamanya, antara lain, lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
“Pada saat yang sama, neraca perdagangan migas tercatat defisit US$ 1,72 miliar. Ini berasal dari defisit hasil minyak maupun minyak mentah,” kata dia.
Berdasarkan mitra dagang, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus karena perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 1,57 miliar, India sebesar US$ 1,26 miliar, dengan Filipina sebesar US$ 0,75 miliar.
