Ekonom: Surplus Neraca Perdagangan Berlanjut akan Perkuat Rupiah
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom senior Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto memperkirakan surplus neraca perdagangan akan berlanjut hingga tahun depan. Hal ini akan berdampak pada kondisi nilai tukar rupiah.
“Kami memperkirakan surplus neraca perdagangan akan berlanjut hingga tahun depan, yang berpotensi untuk memperkuat rupiah ke depannya,” kata Rully, melalui keterangan resminya, Kamis (16/11/2023).
Rully mengatakan surplus perdagangan Indonesia selama Januari-Oktober 2023 atau selama 42 bulan berturut-turut ini tergolong cukup baik karena kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Rully mengatakan, surplus neraca perdagangan yang lebih besar dari perkiraan para ekonom, menyebabkan apresiasi signifikan rupiah sebesar 1,00% menjadi Rp 15.535 pada Rabu (15/11/12023).
Baca Juga
Rully memperkirakan kondisi rupiah akan stabil pada level saat ini hingga akhir tahun. Dia berharap rupiah akan bertengger pada level Rp 15.525 terhadap dolar AS.
“Proyeksi ini didukung oleh surplus perdagangan yang kuat dan prospek lebih jelas terkait suku bunga AS (Amerika Serikat)” ujar dia.
Meski demikian, Rully memberikan catatan mengenai kondisi ekspor dan impor yang terkontraksi. “Kalau dilihat secara lebih detail, surplus yang terjadi disebabkan oleh kontraksi secara bersamaan baik ekspor maupun impor,” tulisnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2023 mengalami surplus US$3,48 miliar terutama berasal dari sektor nonmigas US$5,31 miliar, namun tereduksi oleh defisit sektor migas senilai US$1,83 miliar.
Nilai ekspor pada Oktober 2023 mengalami penurunan signifikan sebesar 10.43% year on year (yoy) menjadi US$ 22,2 miliar. Kondisi ini dipengaruhi menurunnya ekspor non-migas sebesar 11.36% yoy menjadi US$ 20.8 miliar. Adapun ekspor migas naik sebesar 6,63% yoy menjadi US$ 1,37 miliar.
Sementara nilai impor Indonesia Oktober 2023 mencapai US$18,67 miliar, naik 7,68% dibandingkan September 2023 atau turun 2,42% dibandingkan Oktober 2022.(CR-7)

