Ekonom Prediksi Neraca Perdagangan Mei Tetap Surplus
JAKARTA, investortrust.id – Surplus perdagangan Indonesia diperkirakan berlanjut pada Mei 2024 dengan target US$ 2,13 miliar. Target tersebut lebih rendah dari realisasi April 2024 senilai US$ 3,56 miliar.
Sebagaimana diketahui Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data perkembangan ekspor dan impor Indonesia sepanjang Mei 2024 pada, Rabu (19/6/2024).
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan tren surplus perdagangan akan berlanjut di Mei 2024. Hanya saja angkanya diprediksi turun dari realisasi April senilai US$ 3,56 miliar menjadi US$ 2,13 miliar.
Baca Juga
Zulhas Sebut Neraca Perdagangan Surplus 48 Bulan Berturut-turut, Tapi Ekspor Anjlok
"Penurunan surplus ini terutama disebabkan oleh kembalinya aktivitas perdagangan setelah perayaan Idul Fitri dengan latar belakang ekonomi domestik yang relatif solid," kata Josua, dalam keterangan resminya.
Dia memperkirakan, pertumbuhan ekspor tahunan sebesar 1,55% yoy pada Mei 2024. Secara bulanan, ekspor diperkirakan meningkat 12,38% secara bulanan (month to month/MoM) seiring dengan normalisasi kegiatan ekonomi setelah liburan Idul Fitri.
Selain itu, Josua memperkirakan harga CPO meningkat secara bulanan pada Mei 2024. Ini didorong kenaikan harga barang substitusi seperti minyak kedelai, di tengah penurunan pasokan minyak nabati secara global.
"Meskipun demikian, peningkatan kinerja ekspor bulanan dibatasi oleh data dari Tiongkok yang mengindikasikan kontraksi impornya dari Indonesia," ucap dia.
Sementara itu, impor diperkirakan menurun secara tahunan, terutama karena high base effect dari tahun sebelumnya. Josua memperkirakan laju impor terkontraksi minus 6,40% secara tahunan (year on year/YoY) pada Mei 2024. "Sebagian besar disebabkan oleh tingginya base effect dari bulan Mei 2023 ketika impor melonjak," ucap dia.
Baca Juga
Secara bulanan, kata Josua, impor menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor, dengan ekspektasi akselerasi sebesar 24,05% mom. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh berakhirnya efek musiman Idul Fitri dan pertumbuhan bulanan dua digit yang dilaporkan pada ekspor China ke Indonesia.
"Kami memproyeksikan defisit transaksi berjalan yang terkendali pada tahun 2024, dengan pelebaran moderat dari minus 0,14% dari PDB pada tahun 2023 menjadi minus 0,94% dari PDB, masih lebih rendah dibandingkan dengan periode 2012 - 2019, dengan rata-rata minus 2,50% dari PDB," ujar dia.
Dia mengatakan, prospek ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain normalisasi harga komoditas secara bertahap, permintaan domestik yang relatif resilient, dan potensi dampak peningkatan ketidakpastian global terhadap permintaan global. "Faktor-faktor ini diperkirakan akan mempersempit surplus perdagangan dan dengan demikian mempengaruhi surplus barang dalam neraca transaksi berjalan," ujar dia.

