BPDPKS Ungkap Penurunan Pungutan Ekspor Dorong Daya Saing Sawit RI di Pasar Global
SURABAYA, investortrust.id - Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyebutkan salah satu alasan utama menurunkan pungutan tarif ekspor kelapa sawit dari 11% menjadi 7,5% untuk meningkatkan daya saing di pasar global.
Kebijakan penurunan tarif ekspor tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62 Tahun 2024 tentang Tarif layanan Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
“Karena kita melihat bahwa ekspor kelapa sawit kita ini daya saingnya sedikit terganggu,” ucap Direktur Penghimpunan Dana BPDPKS Normansyah Hidayat seusai sosialisasi implementasi ketentuan terkait ekspor dan pungutan ekspor atas komoditas kelapa sawit, CPO dan turunannya di Surabaya, Kamis (21/11/2024).
Baca Juga
BPDPKS: Pungutan Ekspor Dorong Kenaikan Ekspor Produk Hilirisasi CPO hingga 65%
Normansyah mengungkapkan penyesuaian tarif ekspor tersebut akan membuat daya saing ekspor kelapa sawit kita kembali seperti semula. Terlebih lagi terhadap negara-negara tujuan ekspor utama, seperti China dan Pakistan.
“Hal ini bisa dilihat dari data ekspor ke beberapa negara tujuan utama seperti China dan Pakistan ini rata-rata mungkin share-nya sedikit menurun,” ungkapnya.
“Nah kita lakukan ini supaya teman-teman kelapa sawit, teman-teman industri kelapa sawit memiliki daya saing kembali untuk dapat meningkatkan pasar ekspornya kembali ke negara-negara tujuan ekspor utama,” tambahnya.
Baca Juga
Bos BPDPKS Sebut Penyaluran Dana Peremajaan Sawit Rakyat Capai Rp 9,83 Triliun
Sebelumnya, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Eddy Abdurrachman mengatakan industri pengolahan kelapa sawit memiliki peran strategis bagi perekonomian Indonesia. Apalagi, kontribusi industri nonmigas ke pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2024 adalah sebesar 4,23%.
“Komoditas kelapa sawit menjadi salah satu motor penggerak pada kedua sektor tersebut. Pada sisi ekspor, industri kelapa sawit juga merupakan salah satu penyumbang terbesar untuk ekspor nonmigas Indonesia,” ungkap Eddy.

