Penerimaan Pungutan Ekspor Sawit Terus Turun, Ini Sebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Eddy Abdurrachman mengungkapkan penerimaan pungutan ekspor sawit terus turun setiap tahunnya.
Eddy pun memperkirakan pungutan ekspor sawit 2024 hanya sekitar Rp 28 triliun. Angka ini lebih rendah apabila dibandingkan dengan dana yang terhimpun sejak 2021, 2022 serta 2023.
“Tahun 2024 ini tadi kemungkinan penerimaan dari pungutan ekspor itu hanya mencapai sekitar Rp 28 triliun,” ucap Eddy saat ditemui pada diskusi yang digelar Investortrust.id di Aula Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Kamis (20/6/2024).
Baca Juga
Gapki Sebut Intervensi Pemerintah Dibutuhkan untuk Dorong Hilirisasi Sawit
Ia menjelaskan, pungutan ekspor sawit mencapai angka tertingginya pada 2021, yakni sekitar Rp 71 triliun. Dana yang dihimpun juga menurun pada 2022, yaitu sebesar Rp 51 triliun, serta turun kembali ke angka Rp 34 triliun pada 2023 kemarin.
"Pada dasarnya kalau dihitung per tahun itu berbeda-beda karena pungutan ekspor itu dipungut berdasarkan volume dan tarif," terangnya.
"Sedangkan tarifnya based on harga, sehingga karena harga terjadi fluktuasi, sehingga penerimaan kita dari tahun ke tahun itu agak berbeda, tidak bisa flat begitu saja," tambah Eddy.
Baca Juga
Gapki: Petani Swadaya Penentu Kesuksesan Hilirisasi Sawit di Indonesia
Lebih lanjut, Eddy menyebutkan bahwa 70% dari penerimaan pungutan ekspor sawit tersebut digunakan oleh pihaknya untuk membiayai program pengembangan biodiesel yang dilakukan hingga saat ini.
"Karena memang dari tahun ke tahun volume biodiesel ditingkatkan, dari waktu saya masuk itu dari B20, B30 sekarang B35. Untuk 35 ini saja sudah volumenya kurang lebih sekitar 13,13 juta kilo liter lah," tandasnya.

