Rupiah Melemah usai BI Pertahankan Suku Bunga 6%
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah melemah dalam penutupan perdagangan Rabu (20/11/2024) tepat usai rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 6%. Jisdor BI merilis dalam perdagangan hari ini, kurs rupiah ditutuo melemah 42 poin ke level Rp 15.858/USD, yang sebelumnya berada pada posisi Rp 15.816/USD.
Sementara dilansir dari Yahoo Finance, hingga pukul 16.00 WIB kurs rupiah bergerak melemah 34 poin (0.21%) ke level Rp 15.859/USD. Diketahui pada penutupan perdagangan sebelumnya, kurs rupiah sempat bertengger pada posisi Rp 15.825/USD.
Diberitakan sebelumnya RDG BI periode 19-20 November 2024 memutuskan menahan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 6%. Bukan hanya suku bunga acuan, suku bunga deposit facility juga dipertahankan di level 5,25%, dan suku bunga lending facility dipertahankan di level 6,75%.
"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI rate 6%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (20/11/2024).
Baca Juga
Sementara dari sentimen global, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengungkap pasar tetap tidak yakin tentang apa yang akan terjadi pada ekonomi dan suku bunga AS di bawah kepemimpinan Donald Trump, di tengah beberapa keraguan tentang apakah Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada bulan Desember.
Selain itu perang Rusia-Ukraina menjadi fokus setelah ancaman nuklir Moskow Peningkatan ketegangan antara Rusia dan Ukraina. Moskow menurunkan ambang batas pembalasan nuklir atas serangan Ukraina sebagai respons terhadap AS yang dilaporkan mengizinkan penggunaan rudal jarak jauh oleh Ukraina terhadap Rusia, yang diperingatkan Moskow dapat menandai eskalasi mengerikan dalam konflik tersebut.
Namun, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan negara itu akan melakukan semua yang bisa dilakukannya untuk menghindari perang nuklir. Namun permusuhan dengan Ukraina terus berlanjut, karena kedua negara melancarkan serangan yang melemahkan satu sama lain selama seminggu terakhir.
"Kemudian dari Asia, Bank Rakyat Ciongkok tidak mengubah LPR satu tahun dan lima tahunnya pada hari Rabu, dengan Beijing kemungkinan menahan stimulus lebih lanjut hingga memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang apa yang akan terjadi pada hubungan China-AS di bawah kepemimpinan Donald Trump," jelas Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (20/11/2024).

