Rupiah Ditutup Melemah Usai BI Pertahankan Suku Bunga Acuan
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah melemah dalam penutupan perdagangan Rabu (18/12/2024) atau tepat usai Bank Indonesia (BI) mengumumkan pertahankan suku bunga acuan BI Rate pada level 6%. Jisdor BI merilis kurs rupiah melemah 50 poin ke level Rp 16.100/USD, di mana sebelumnya dalam penutupan perdagangan terakhir berada pada posisi Rp 16.050/USD.
Sementara kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank, mata uang Garuda bergerak merosot 26 poin (0.16%) ke level Rp 16.085/USD. Adapun dalam penutupan perdagangan kurs terakhir, Yahoo Finance merilis mata uang rupiah berada di posisi Rp 16.059/USD.
Sebelumnya Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI memutuskan untuk kembali menahan suku bunga acuan atau BI rate pada level 6% di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%. Keputusan ini konsisten dengan arah kebijakan moneter untuk memastikan tetap terkendalinya inflasi dalam sasaran 2,5±1% pada 2024 dan 2025.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, pasar merespon negatif terhadap kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% mulai 1 Januari 2025. Kebijakan ini dinilai tidak membawa perubahan signifikan. Kenaikan tarif PPN akan berdampak besar pada ekonomi Masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.
Baca Juga
Meskipun pemerintah menyatakan keberpihakan pada masyarakat bawah, ia menilai pada kenyataannya PPN tetap naik untuk sebagian besar kebutuhan masyarakat.
"Tidak hanya itu, saya juga mengkritik perbandingan yang dibuat pemerintah mengenai tarif PPN Indonesia dengan negara-negara seperti Kanada, China, dan Brazil. Perbandingan tersebut tidak relevan karena negara-negara tersebut memiliki pendapatan per kapita tinggi dan ekonomi yang stabil," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Rabu (18/12/2024).
Dari pasar AS, The Fed secara luas diharapkan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, tetapi fokusnya akan tertuju pada proyeksi ekonomi masa depan The Fed dan komentar Ketua Jerome Powell. Sinyal tentang prospek suku bunga jangka panjang The Fed tetap menjadi fokus karena inflasi tetap membandel dan diperkirakan akan terus meningkat di bawah Presiden Donald Trump yang akan datang.

