Kurs Rupiah Perkasa Usai BI Pertahankan Suku Bunga, Makin Dekat Rp 16.000/USD
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah ditutup perkasa terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Rabu (17/7/2024), setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan mempertahankan suku bunga acuan BI Rate. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, kurs rupiah menguat 74 poin ke level Rp 16.129/USD, dibanding posisi uang Garuda kemarin Rp 16.203/USD.
Di pasar spot valas, sebagaimana dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah juga bergerak semakin mendekat ke level Rp 16.000/USD hingga pukul 15.30 WIB. Rupiah bergerak menguat 80 poin ke level Rp 16.094/USD, dibanding hari sebelumnya Rp 16.174/USD.
Menurut Kepala Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) Tbk David Sumual, langkah BI mempertahankan suku bunga acuan direspons positif oleh pasar. Hal tersebut dibuktikan dengan menguatnya pergerakan kurs rupiah dalam penutupan pasar perdagangan Rabu (17/7/2024) sore.
"Pengumuman BI Rate direspons positif dan (rupiah) bergerak menguat menjelang penutupan pasar," kata David Sumual kepada Investortrust.id, Rabu (17/7/2024).
Baca Juga
Perry: Rupiah Menguat Didukung Kebijakan BI dan Fundamental Ekonomi
Pengaruh Sentimen Eksternal Kuat
Meski demikian, ekonom BCA tersebut menilai sentimen eksternal masih menjadi pengaruh terkuat terhadap pergerakan pasar valas. Menurutnya, pergerakan pasar dipengaruhi ketidakpastian dari bank sentral AS, The Fed, soal arah kebijakan Fed Funds Rate, dan pemilihan umum (pemilu) presiden Negeri Paman Sam tersebut.
"Belum lagi gejolak geopolitik di Timur Tengah dan Russia-Ukraina, Ini juga berpengaruh terhadap komoditas, khususnya minyak dunia," ucapnya.
Sementara itu, siang tadi, BI mengumumkan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 6,25%. Keputusan diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 16-17 Juli 2024.
"Rapar Dewan Gubernur BI juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga Deposit Facility di level 5,50% dan suku bunga Lending Facility sebesar 7%.," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, di Kantor BI, Jakarta, Rabu (17/7/2024).
Baca Juga
Investasi Portofolio Triwulan II Diprakirakan Net Inflows US$ 4,3 Miliar
Dijelaskan Perry, alasan Dewan Gubernur BI mempertahankan suku bunga acuan bulan ini didasarkan kebijakan moneter pro-stabilitas serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap dalam sasaran 2,5±1% pada 2024 dan 2025. Ini termasuk untuk menjaga efektivitas aliran masuk modal asing dan stabilitas nilai tukar rupiah.

