Menteri PPN/Bappenas Rinci Tantangan Global bagi Indonesia untuk Bertumbuh
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perencanaan Pembangunan (PPN)/Bappenas Rachmat Pambudy memaparkan sejumlah tantangan bagi Indonesia ke depan untuk mencapai pertumbuhan. Salah satu tantangan nyata yang akan dihadapi yaitu the triple planetary crisis.
"Yaitu, perubahan iklim, kerusakan lingkungan, serta kehilangan keanekaragaman hayati," kata Rachmat saat acara sosialisasi RPJPN 2025-2045 di kantor Bappenas, Jakarta, Selasa (19/11/2024).
Selain masalah iklim, Rachmat juga menyebut dunia yang semakin proteksionis. Dia menyebut kemenangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) akan meningkatkan potensi berulangnya trumpnomics yang bisa berujung pada perang dagang antarnegara besar dunia.
"Eskalasi geopolitik dan geoekonomi diperkirakan memunculkan fragmentasi dan kekuatan baru," ujar dia.
Rachmat memaparkan perkembangan teknologi yang masif juga akan menimbulkan disrupsi positif dan negatif. Kondisi ini juga terjadi dengan perubahan struktur demografi global 2050.
Baca Juga
"Perubahan struktur demografi global 2050 diperkirakan bergeser ke kawasan Afrika seiring dengan tingginya pertumbuhan populasi di kawasan tersebut, yang mencapai 81,8% pada tahun 2050," kata dia.
Dari sisi domestik, ujar Rachmat menjelaskan, Indonesia juga masih mengalami berbagai tantangan pembangunan. Salah satu yang menjadi sorotannya yaitu pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tak bergerak di angka 5%.
"Ekonomi Indonesia tumbuh stagnan pada kisaran 5% selama 20 tahun terakhir. Hal ini menyebabkan terjebak dalam pendapatan kelas menengah selama lebih dari 30 tahun," jelas dia.
Dari sisi kualitas sumber daya manusia, Rachmat menyebut (SDM) masyarakat Indonesia masih relatif rendah. Ini ditunjukkan dengan Indeks Modal Manusia baru mencapai 0,54 dan Skor PISA Indonesia masih relatif tertinggal dibawah rata-rata negara OECD.
Baca Juga
Pemerintah Godok Stranas Baru, Fokus 5 Kelompok Sasaran Cegah Stunting
Berdasarkan data 2020 tersebut, skor untuk sains Indonesia tercatat sebesar 396 atau di bawah rata-rata negara-negara di OECD yang tercatat sebesar 489. Untuk skor matematika, skor Indonesia tercatat 379 atau di bawah negara-negara OECD. Sementara itu, skor membaca siswa miliki skor 371 atau di bawah skor rata-rata negara di OECD yang sebesar 487.
Selanjutnya, kata dia di bidang kesehatan masih dihadapi oleh angka stunting, kematian ibu, dan kematian bayi yang masih tinggi.
Berdasarkan data, angka stunting Indonesia pada 2023 tercatat sebesar 21,5%. Sementara masih tingginya angka kematian ibu masih tinggi tercatat yaitu 189 orang per 100.000 kelahiran, berdasar data 2020. Data pada tahun yang sama, 2020, juga menunjukkan angka kematian bayi yang tinggi sebesar 16,85 per 1.000 kematian.
"Dan, masih perlunya upaya pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia," ujar dia.

