Rosan Rinci Hilirisasi di Sektor Mineral, Pabrik DME di Tanjung Enim Bakal Berkapasitas 1,4 Juta Ton
Poin Penting
|
CILACAP, investortrust.id - CEO Danantara Rosan Roeslani menyebutkan, dari 13 proyek yang groundbreaking dalam proyek hilirisasi nasional tahap 2, sebanyak lima di antaranya berasal dari sektor mineral. Salah satunya adalah pembangunan fasilitas pengolahan batu bara menjadi bahan bakar alternatif dimetil eter (DME) di Tanjung Enim (Sumatera Selatan).
Pengembangan fasilitas produksi DME ini berkapasitas 1,4 juta ton per tahun, dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebagai operator dan Pertamina Patra Niaga sebagai off taker. Proyek ini bakal mensubstitusi impor LPG yang saat ini mencapai 80% kebutuhan nasional.
“Di sektor mineral ada lima proyek. Pembangunan fasilitas pengolahan batu bara menjadi dimetil eter atau DME di Tanjung Enim sebagai substitusi impor LPG yang di mana memang kita 80% masih mengimpor LPG,” kata Rosan dalam acara Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap 2 di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).
Selain memberikan efisiensi devisa, proyek ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi domestik serta menciptakan peluang kerja baru dalam pengembangan industri hilir berbasis energi.
Proyek hilirisasi selanjutnya dari sektor mineral adalah pengembangan fasilitas manufaktur baja nirkarat dari nikel di Indonesia Morowali Industrial Park (Sulawesi Tengah). Priyek ini bakal digarap PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan bermitra dengan Tsingshan Group.
Pengembangan fasilitas produksi stainless steel slab ini berkapasitas 1,2 juta ton per tahun berbasis nikel lokal melalui proses peleburan dan pemurnian modern. Inisiatif ini meningkatkan nilai tambah mineral dalam negeri sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja industri serta pertumbuhan ekonomi kawasan industri secara berkelanjutan.
Baca Juga
Presiden Prabowo Resmikan 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap 2 Senilai Rp 116 Triliun
Selanjutnya adalah pengembangan fasilitas produksi slab baja karbon dari bijih besi lokal di Cilegon (Banten). Proyek ini dikerjakan oleh PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan bermitra dengan Xin Hai Group.
Pengembangan fasilitas produksi steel slab ini berkapasitas 1,5 juta ton per tahun melalui peningkatan proses produksi dan modernisasi fasilitas existing untuk mencapai efisiensi operasional. Sebagai bagian dari industri dasar, proyek ini memperkuat fondasi industrialisasi nasional serta mendukung efisiensi pembangunan infrastruktur dan peningkatan daya saing industri domestik.
Proyek berikutnya adalah pembangunan ekosistem dan fasilitas produksi aspal buton di Karawang (Jawa Barat). Proyek ini digarap oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk.
Pengembangan Aspal Buton diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan dari 5 ribu ton pada 2025 menjadi 300 ribu ton pada 2030. Proyek ini mendorong optimalisasi sumber daya lokal sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi daerah penghasil serta membuka peluang kerja di sektor konstruksi dan material.
“Produksi aspal buton di Karawang juga untuk mengurangi ketergantungan impor aspal,” ucap Rosan.
Terakhir adalah pengembangan hilirisasi tembaga dan emas yang akan dikerjakan oleh PT Mineral Industri Indonesia (Persero), PT Len Industri (Persero) di Gresik (Jawa Timur).
Pengembangan fasilitas Brass Mill, Brass Cup, serta manufaktur logam mulia berbasis anode slime. Proyek ini memperkuat industri strategis nasional serta membuka peluang kerja bernilai tambah tinggi di sektor manufaktur logam.

