Menteri Investasi/Kepala BKPM: Tidak Ada Alasan Perekonomian Indonesia Tak Bertumbuh 6-8%
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia seharusnya mencapai 6-8% per tahun, mengingat Indonesia tercatat sebagai negara dengan peace and stability paling baik, sumber daya alam melimpah, dan mulai memasuki bonus demografi.
Bahkan, Perdana Menteri Singapura (PM) Lawrence Wong dan beberapa jajaran deputinya sendiri yakin terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% hingga 8% ke depan.
Baca Juga
Pemerintahan Prabowo Subianto Pastikan Buat Kementerian Perumahan dan Badan Penerimaan Negara
“Saya masih ingat hasil pembicaraan dengan perdana menteri Singapura dan deputi negara tersebut menyebutkan bahwa Indonesia itu mestinya tidak ada alasan untuk mencapai pertumbuhan (ekonomi) 6%, 7% bahkan 8%. Itu sangat achievable,” kata Rosan saat diskusi Future of Indonesia Dialogue: Optimisme Dunia Usaha dalam Bermitra dan Menyongsong Pemerintahan Prabowo-Gibran, di Hutan Kota by Plataran, Jakarta, Sabtu (31/8/2024).
Berdasarkan pembicaraan tersebut, dia mengatakan, Indonesia memiliki modal penting untuk mencapai target pertumbuhan kuat tersebut, yaitu Indonesia tercatat sebagai negara peace and stability paling baik, dibandingkan negara-negara lain.
“Selain itu, Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah dan didukung kebijakan pemerintah yang semakin baik. Hanya saja, kadang-kadang kebijakan baik ini, seperti Omnibus Law, tidak tersosialisasikan dengan bagik kepada investor,” kata dia.
Baca Juga
Anindya Bakrie Optimistis Target Pertumbuhan Ekonomi 2025 Tercapai
Contohnya, terang Rosan, perusahaan domestik dan asing yang berpartisipasi dalam pendidikan vokasi akan mendapatkan insentif pajak hingga 200% dari pemerintah. Sementara itu, perusahaan yang berinvestasi untuk research and development (RnD) akan diberikan insentif pajak hingga 300%. “Saat saya sampaikan kebijakan tersebut, banyak investor yang belum tahu. Padahal, kebijakan tersebut sudah berjalan sejak tahun 2020-2021,” ujar dia.
Dia mengatakan, salah satu pekerjaan rumah pemerintah ke depan, yaitu menyampaikan dan menyosialisasikan kebijakan yang sudah ada ke para investor. “Kita harus jaga reforming ourself, terus reformasi diri dalam kebijakan, regulasi, karena pada saat bersamaan, kita juga berkompetisi dengan negara tetangga,” ujar dia.
Baca Juga
Rosan berharap Indonesia dapat menjaga momentum masa keemasan ini, yaitu dalam bonus demografi. “Artinya yang usia produktif lebih banyak dibandingkan usia non-produktif. Rata-rata umur orang Indonesia adalah 30 tahun. Jadi sangat-sangat produktif,” kata dia.
Rosan meminta, pemerintah waspada usia emas ini akan habis pada 2039-2040. “Jadi dalam waktu 15-16 tahun ini, inilah masa keemasan kita untuk terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan dan berkesinambungan. Artinya manusianya harus tumbuh. Oleh sebab itu, salah satu program prioritas Prabowo-Gibran adalah penguatan sumber daya manusia,” ucap dia.

