BKF Siapkan Antisipasi Hadapi Gejolak Timur Tengah
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) Febrio Kacaribu menyebut pemerintah telah mengantisipasi eskalasi konflik Timur Tengah. Langkah ini sebagai respons terhadap kebijakan suku bunga, The Fed.
“Walaupun ini juga masih ada ketidakpastian tentang bagaimana arahnya dalam beberapa bulan, beberapa kuartal ke depan. Itu harus kita mitigasi,” kata Febrio di kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (4/10/2024).
Baca Juga
IHSG Ditutup Anjlok hingga di Bawah 7.500, tapi Lima Saham Ini Perkasa
Febrio mengatakan sebagai antisipasi gejolak Timur Tengah, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) akan dimanfaatkan sebagai shock absorber. Dia mengatakan pemerintah memiliki mekanisme anggaran untuk menghadapi kondisi semacam itu.
“Terkait dengan dampaknya terhadap APBN karena ini sudah menjelang akhir tahun untuk 2024 relatively cukup aman. Apalagi kemarin sempat juga rupiah menguat cukup banyak dan tingkat suku bunga juga mulai turun,” kata dia.
Selain rupiah, Febrio menyebut konflik di Timur Tengah juga dapat diantisipasi dengan harga komoditas yang sudah mulai turun pada pertengahan tahun lalu. Melihat kondisi ini, dia optimistis pelaksanaan APBN 2024 akan relatif aman.
“Tantangan berikutnya tentu bagaimana kita mengantisipasi dan mitigasi untuk 2025 dengan situasi yang mungkin masih akan tetap sama,” ujar dia.
Baca Juga
Kepala BKF: Tengah Deflasi, Pemerintah Fokus Jaga Daya Saing Industri Padat Karya
Pemerintah menargetkan defisit APBN 2024 pada kisaran 2,7% atau senilai Rp 609 triliun. Angka ini di atas rancangan defisit APBN 2024 yang tercatat sebesar Rp 522,8 triliun.
