Gejala Resesi AS Makin Kuat, Kepala BKF akan Antisipasi
JAKARTA, investortrust.id - Tingkat pengangguran di Amerika Serikat tercatat mengalami kenaikan 4,3% per Juli 2024. Data Sahm Rule -- indikator gejala resesi yang banyak digunakan-- menunjukkan bakal terjadinya resesi di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu.
Data Sahm Rule mengalami kenaikan selama tiga bulan berturut-turut sejak Mei 2024. Pada Juli 2024, Sahm Rule tercatat di atas 0,53%. Angka 0,53% menandai adanya tekanan ekonomi yang lebih berat ke depan.
Melihat data tersebut, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Kacaribu menyebut akan mengantisipasi kondisi tersebut. Meski demikian, Febrio enggan menjelaskan detail kebijakan yang bakan ditempuh untuk meredam dampak kondisi ini.
“Itu kan tercermin di probabilitas resesi yang mereka assess ya. Itu kita lihat nanti,” kata Febrio saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (6/8/2024).
Baca Juga
Telat Pangkas Bunga AS
Febrio mengatakan akan terus memantau pergerakan kondisi ekonomi AS. Dia mengakui, kondisi perekonomian negeri adidaya itu di bawah ekspektasi.
“Misalnya, penganggurannya ternyata lebih tinggi dari yang mereka bayangkan. Lalu, dilihat dari tingkat suku bunga kebijakan mereka, dipandang oleh pasar, harusnya sudah lebih awal dipotong,” ujar dia.
Febrio mengatakan sempat berekspektasi terhadap pemotongan suku bunga The Fed selama tiga kali pada 2024. Data terbaru menunjukkan Fed Funds Rate (FFR) bakal mengalami pemangkasan beberapa kali hingga akhir tahun ini.
“Dalam konteks untuk stabilitas makro kita, dampaknya sementara ini kami lihat mostly positif. Kalau suku bunga kebijakan Amerika itu diturunkan, itu membuat tekanan capital outflow harusnya bisa berkurang,” kata dia.
Baca Juga
Dengan kondisi tersebut, lanjut Febrio, tingkat suku bunga di Tanah Air akan relatif cukup menarik bagi investor portofolio. “Nah itu yang harus kami pantau hari demi hari. Tentunya, perubahan ini harus kami pantau dengan dekat, sehingga langkah-langkah yang kami lakukan tentunya juga terukur dengan baik,” ujar dia.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira melihat data Sahm Rule yang berada di atas angka 0,5% menunjukkan probabilitas resesi di AS semakin tajam. “Ini warning. Dari sembilan kali resesi ekonomi di AS, prediksi menggunakan Sahm Rule sebagai indikator menjadi salah satu yang kredibel, karena bisa memprediksi sembilan kali resesi secara tepat,” kata Bhima.
Selain ancaman resesi, Bhima turut menyoroti tekanan ekonomi Negeri Paman Sam akibat pemilihan presiden. Diunggulkannya nama calon presiden dari Partai Republik Donald Trump menimbulkan kekhawatiran banyak hal.
“Donald Trump misalnya antiterhadap mobil listrik. Selain itu, memberikan pemangkasan pajak bagi orang kaya di AS dan banyak kebijakan kesehatan dari Presiden AS Joe Biden ingin tidak dilanjutkan,” kata dia.
Ancaman Pelemahan Ekspor
Selain itu, pasar saham AS menunjukkan pelemahan secara bulanan akibat melonjaknya dana keluar. Indeks Nasdaq tercatat mengalami pelemahan 8,59% secara bulanan dan S&P500 turun 3,96% secara bulanan.
“Ini jadi indikator kepanikan pasar keuangan AS,” ujar dia.
Bhima menyebut, implikasi tekanan ekonomi AS ke Indonesia salah satunya meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Dengan adanya indikator resesi yang menguat dan ketidakjelasan sikap Bank Sentral AS, The Fed, akan membuat investor beralih ke aset yang lebih aman.
“Investor banyak yang geser ke aset yang lebih aman, safe haven, seperti emas. Bisa dolar AS, dalam jangka menengah,” kata dia.
Selain itu, implikasi dari ancaman resesi AS yaitu bakal melemahnya cadangan devisa Indonesia. Ini disebabkan melemahnya ekspor Indonesia ke AS.
“Kalau dibaca ekspor ke AS memang tidak sebesar ekspor Indonesia ke Cina. Tapi, yang kita lihat, bahan baku atau barang setengah jadi ke Cina akan diolah dan akan dipasarkan ke Amerika,” ujar dia.

