BKF Sebut Asumsi Pertumbuhan Ekonomi 5,1%-5,5% untuk Antisipasi Ketidakpastian Global
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan, usulan asumsi makro pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1% hingga 5,5% ditetapkan dengan mempertimbangkan kondisi ketidakpastian global.
“Ketidakpastian itu karena kita nggak tahu,” kata Febrio, di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (20/6/2024).
Febrio mengatakan, ketidakpastian global ini memiliki beberapa indikasi. Dia menyebut, ketidakpastian yang muncul dapat berasal dari konflik, bencana alam, hingga kenaikan secara mendadak harga komoditas.
“Nah dengan bervariasinya ketidakpastian, makanya pada titik sekarang ini, kita menyusun Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF), kita usulkan pertumbuhan ekonomi cukup lebar range-nya di 5,1% hingga 5,5%” kata dia.
Baca Juga
Febrio mengatakan mendekati penyusunan Nota Keuangan, pemerintah akan menyampaikan finalisasi asesmen. “Kita masih punya waktu melakukan asesmen dan semakin dekat ke titik itu akan kita putuskan asumsinya dalam range itu berapa,” kata dia.
Selain pertumbuhan ekonomi, penentuan asumsi akan mempertimbangkan inflasi dan kurs. Pembahasan asumsi ini melibatkan DPR.
“Sehingga range itu memberikan gambaran baik bagi pemerintah dan DPR agar kita bersama-sama mendapatkan konvergensi ke titik aman ketika menulis Nota Keuangannya, supaya ketika dilanjutkan menghasilkan konvergensi yang bagus,” kata dia.
Arah Defisit
Febrio mengatakan dalam pembahasan dengan panitia kerja (panja) A Badan Anggaran (Banggar) DPR, defisit telah disepakati dalam rentang 2,29% - 2,82% dari PDB.
Batas itu menganulir wacana defisit APBN 2025 diturunkan hingga 1,5%-1,8% dari PDB, seperti yang diusulkan Menteri Perencanaan Pembangunan (PPN)/Bappenas Suharso Monoarfa.
Baca Juga
“Panja A memutuskan arah defisitnya, nah tadi diputuskan arahnya ke sana,” kata dia.
Febrio mengatakan rentang defisit 2,29%-2,82% dari PDB telah mempertimbangkan kenaikan rasio pendapatan negara. “Arahnya tadi bahwa rasio pendapatannya meningkat, itu diterjemahkan jadi rasio batas bawahnya lebih rendah,” ucap dia.

